Sinopsis Novel: Last Song in Borneo

Seorang mahasiswi Antrophologi dari Universitas Amesterdam, Belanda, mendapatkan tugas, menulis makalah mengenai “Eksistensi Sisa Perang Dunia Ke 2 di Asia Tenggara dan Pengaruh Keturunan Eropa Di Masa Modern.” Belinda Hoftijzer namanya.

Pada liburan Musim Panas, ia dan dua orang temannya memulai penelitian di Indonesia. Alasannya, Indonesia sangat erat hubungan emosional dengan Belanda. Apalagi, banyak anak turun serdadu Belanda ataupun pengusaha Belanda di Indonesia. Selain itu, Belinda juga memiliki kakek dari Indonesia, Sastro Atmodjoe namanya.

Pada akhir bulan Mei, Belinda berangkat ke Indonesia bersama, Hilde Koningse dan juga David. Namun Belinda berpisah dengan mereka di Jakarta. Belinda mengatakan ingin ke Wonosobo untuk mencari sisa keturunan kakeknya, sekaligus menyambung persaudaraan. Dan akan memulai penelitian darisana Maka, tiga orang itu berjanji akan bertemu lagi di Jakarta pada akhir Agustus.

Belinda datang ke Wonosobo, Jawa Tengah. Tepatnya di sebuah desa bernama Somagede di Wadaslintang. Karena dari sanalah kakeknya berasal. Dari sana, ia mendapatkan informasi kalau garis keturunan kakeknya telah banyak yang mati.

Salah satunya yang tidak diketahui rimbanya, dan di klaim sudah mati adalah yang di culik Belanda pada masa kerja Rodi. Kemudian di bawa ke Sumatra Barat. Namanya Sastroe Atmodjoe. Dialah kakek Belinda. Sasatroe Atmodjoe anak dari Pawiro Dimedjoe dan Waginem binti Turyonoe. Dari penduduk setempat, Belinda mendapatkan informasi kalau keturunan dari Pawiro sudah tidak ada lagi. Hampir semua sudah meninggal.

Namun dari salah seorang wanita sesepuh desa, Belinda mendapatkan informasi, masih ada adik dari Mbah Pawiro yang tersisa. Ia tinggal di Desa Krasak, Mojotengah Wonosobo. Belinda pun berangkat menyusuri jalanan mencari garis keturunan kakeknya demi menyambung kembali persaudaraan.

Di desa Krasak, Belinda mendapatkan kekecewaan. Memang ia menemukan kediaman Mbah Mangun. Tapi beliau sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Belinda bertemu dengan anak Mbah Mangun, Yunita namanya. Mereka berkumpul dan saling bercerita.

Saat sedang asyik bertemu saudara, Belinda mendapatkan email dari teman. Isinya tentang sekelompok orang yang mengaku keturunan Belanda di daerah Depok Jawa Barat. Mereka dikenal dengan nama Belanda Depok. Katanya mereka juga hampir punah eksistensinya. Meski sebenarnya mereka hanya budak dari seorang Belanda di masa penjajahan. Namun mereka memiliki darah Eropa karena sebagian besar adalah anak dari serdadu kompeni yang berasal dari daerah Ambon.

Saat hendak pamitan, anak dari Mbah Mangun berpesan agar Belinda menelusuri jejak keturunannya di Suryotarunan, Ngampilan, Yogjakarta. Karena menurut cerita dari mbahnya, kalau leluhurnya adalah abdi dalem kraton Yogjakarta yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dahulu kala. Dan akhirnya menetap di Dusun Somagede Wadaslintang. Meski anak dari Mbah Mangun sendiri ragu tentang keaslian certa itu. Tapi ia memiliki saudara di Yogjakarta yang biasa di datangi.

Belinda menerima sebuah alamat. Ia juga mendapatkan informasi tentang eksistensi keturunan belanda di Yogyakarta. Akhirnya, ia menghubungi temannya. Dan menentukan awal penelitian dan juga wawancara kepada para anak turun belanda di Indonesia.

Dan mulailah Belinda berangkat ke Jogyakarta. Sesampai di sana, ia menginap di Mawar Asri hotel. Jl. H. Agus Salim No. 40, Yogyakarta, Indonesia, 55262. Dari sana ia melakukan pencarian alamat yang di bawa. Tak perlu waktu lama, ia pun menemukannya. Tepatnya di sebuah perkampungan sempit. Di rumah bercat hijau dengan pelataran cukup lebar.

Belinda diterima oleh wanita mudah berusia 36 tahun, Ayuningsih namanya. Apalagi setelah Belinda menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya. Ayuningsih kemudian memperkenalkan kepada seluruh keluarganya. Keduanya bersuka cita. Karena tidak sengaja bertemu dengan saudara dari Belanda.

Malam harinya, Belinda di suruh menginap. Karena keluarga ingin bercerita banyak hal. Di malam itulah ia bertemu dengan seorang wanita sepuh. Usianya sekitar 79 tahun. Namun wajah dan senyumnya mengembang. Tegar sekali. Wajahnya bulat dengan tahi lalat di dagu kiri. Wanita itu mengenalkan diri bernama Murtiyem. Murtiyem adalah adik simbah Ayuningsih. Ingatannya masih tajam. Cara bicaranya tegas dan lugas.

Murtiyem memiliki dua orang anak lelaki semua. Yang satu meninggal ketika usia 3 tahun. Suaminya mantan pejuang telah lama pulang ke rahmatullah. Dan Murtiyem yang semula tinggal di Imogiri, diajak tinggal bersama dengan Ayuningsih. Karena Murtiyem tidak ada yang merawat, sebab anaknya bekerja di luar negeri.

Perkenalan Murtiyem dan Belinda malam itu, membuka kenangan Murtiyem. Murtiyem meminta Belinda kembali lagi esok harinya. Karena Murtiyem ingin mengajaknya jalan-jalan sekaligus menceritakan sesuatu hal.

Belinda menuruti keinginan Murtiyem. Esok harinya, di sebuah rumah makan Murtiyem membuka kisah tentang pengalaman pahit yang dirasakannya, ketika ditipu oleh temannya dan tentara Jepang. Betapa terkejutnya Belinda.

Ternyata Murtiyem adalah bekas budak seks di zaman Jepang atau yang di kenal dengan Jugun ianfu. Di hari pertama, Murtiyem menceritakan dengan santai tentang siapa dirinya. Kemudian, disela-sela makan ia menambahkan tentang kondisi Jepang kala itu.

Lalu, Murtiyem menceritakan tentang temannya, Zus Lentji. Ia adalah biduan di grup kondang Pantja Soerya. Meski Zus adalah wanita Ambon, namun sudah lama tinggal di Yogyakarta. Dan keduanya berteman akrab.

Sekembalinya dari Borneo, Zus menawarkan Murtiyem untuk ikut kesana.Antara iya dan tidak. Murtiyem ragu tapi mau. Ragu karena Zus datang bersama dengan Sukenzi, Walikota Banjarmasin dari Jepang.

Sebab, sudah mahfum di masyarakat. Kalau Jepang sering menipu bahkan menculik anak lelaki untuk di jadikan pekerja paksa “Romusha. Tetapi, manager Grup tersebut meyakinkan agar Murtiyem mau ikut. Kebetulan sang manager adalah orang Jawa Timur.

Murtiyem berembug dengan kakaknya. Mereka semua melarang. Kendati sudah di larang Murtiyem tetap berangkat. Karena tekad ingin merubah nasib. Dan juga ingin mencari jati diri. Apalagi kedua bapak dan simboknya juga sudah tiada. Kerja dengan keturunan Bangsawan di Jawa, tidak membuatnya betah.

Murtiyem berangkat dengan 21 wanita lainnya melalui Surabaya. Dari sana, ia dijemput dengan Kapal Kayu Nichimaru menuju Borneo. Alangkah terkejutnya, sesampai di Borneo ia memang di tempatkan di sanggar Grup Pantja Soerya. Tetapi, dua hari berselang Zus lenjtui dan Juga Pak Ali sang manager tidak nampak juga. Yakinlah ia, kalau telah ditipu. Dari sanggat ia dijemput dengan truk menuju Telawang, di sana ia dimasukkan kedalam sebuah rumah besar dan panjang. Mirip asrama.

Benar. Di dalam rumah, sudah disekat-sekat. Terdiri dari kamar-kamar kecil berukuran sempit. Murtiyem ditempatkan dalam kamar nomor 12. Dan ia di panggil dengan nama Momoye. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka semua memiliki nama Jepang. Ada yang sakura, Hanna, Miyako dan lainnya.

Di hari kedua, Belinda kembali bertemu dengan Murtiyem. Kali ini tempatnya di rumah. Di teras. Murtiyem kembali bercerita dengan lancar mengenai penderitaan selama di dalam asrama. Di hari pertama masuk, ia diperkosa oleh asisten dokter yang wajahnya brewokan.

Bahkan, ketika itu ia belum menstruasi. Dan saat masih sakit karena pendarahan, ia di perkosa lagi oleh 5 orang. Ada jongos yang mengatur jadwal, ia juga orang jawa. Murtiyem pernah memohon agar tidak diberi tamu lagi. Namun, si jongos menolak.

Kalau menolak, maka Murtiyem akan disiksa. Di pukul, tampar. Tendang. Sampai ia pingsan. Di dalam asrama, atau yang disebut Lanjo, ada bosnya. Namanya Cikada. Cikada adalah pengusaha rumah makan sekaligus mucikari.

Setiap orang yang akan melacur di dalam Lanjo wajib membeli karcis. Karcis memiliki harga berbeda-beda. Untuk tentara rendahan harga sendiri, warga sipil jepang sendiri, tentara berpangkat tinggi sendiri.

24 jam para Jugun ianfu di paksa melayani nafsu seks. Jatah makan sekali. Berbeda dengan yang lain, Murtiyem paling berani menentang Jepang. Pernah, ketika ada temannya yang meninggal karena terkena penyakit kelamin parah, dan mayatnya di tumpuk begitu saja di pasar. Murtiyem menentangnya. Hingga akhirnya berhasil menguburkan secara layak.

Cerita di putus oleh Murtiyem karena sudah senja. Dan akan dilanjutkan pada hari ketiga.

Hari ketiga, Murtiyem kembali menceritakan. Kali ini ia bercerita mengenai perjuangannya melarikan diri dari asrama. Bahkan ia sempat melarikan diri, namun akhirnya ia kembali lagi. Karena tidak ada yang berani menolongnya dan kawan-kawan. Atas ulahnya, ia dihajar sampai pingsan. Beberapa waktu setelah itu, ia hamil. Saat usianya menginjak 5 bulan. Cikada, menggugurkan dengan cara amat sadis. Ia dipegang oleh 4 tentara. Dan beberapa tentara mengurut perutnya dengan senapan. Dalam keadaan ia sadar. Alias tidak dibius. Kembali lagi derita menyapa.

Namun, semua penderitaan itu berubah menjadi sebuah keajaiban. Suatu pagi di tahun 1945, tiba-tiba asrama sepi. Sepi tidak seperti biasanya. Setelah Murtiyem mengintip keluar, semuanya sepi. Tidak ada satupun orang Jepang di sana. Ia dan teman-temannya mencoba mencari tahu. Ternyata Jepang telah menyerah kepada sekutu, sehingga seluruh orang Jepang di tarik pulang. Derita selama 3 tahun seakan terbayar dalam satu hari.

Ia masih bingung, mau kemana. Seorang teman bernama Mbak Ribut mengajaknya ke Kapuas. Di sana, ia berkenalan dengan seorang prajurit KNIL bernama Somarsono. Dan darisana kemudian, Murtiyem dinikahi. Meski sebenarnya, usia keduanya terpaut sangat jauh. Dan murtiyem sendiri mengatakan pada Mbak Ribut kalau sejatinya ia tidak butuh seks. Trauma dan sangat benci pada lelaki.

Mbak Ribut mencoba memberikan pengertian. Pernikahan itu terjadi. Meski sebenarnya, Murtiyem dinaksir oleh seorang komandan KNIL pribumi. Namun, demi perjuangan kemerdekaan komandan merelakannnya. Karena Murtiyem tinggal di asrama KNIL, dan ia akan menjadi mata-mata untuk pejuang indonesia.

Tahun 1948. Murtiyem kembali ke Yogykarta bersama dengan suaminya. Ia aktif membantu masak kesana-kemarin. Saking banyaknya yang suka dengan masakannya, ia membuka bisnis katering. Bisnisnya meledak. Tetapi, suatu ketika akibat pengakuannya sebagai eks Jugun ianfu, bisnis kateringnya redup. Bangkrut.

Di hari keempat, Murtiyem menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Jepang. Dan permintaan maaf kepada eks Jugun ianfu di Indonesia. Semua usahanya sia-sia. Karena pemerintah Jepang mengelak dengan alasan tidak ada dokumen resmi. Ditambah pemerintah Indonesia yang menyuruh agar tidak membesar-besarkan masalah ini. Murtiyem menutup kisahnya dengan air mata berderai.

Sebulan setelahnya, Belinda berpamitan untuk ke Jakarta. Dan ia berjanji akan terus menjaga komunikasi dengan saudaranya di Yogyakarta. Dan juga Murtiyem. Selama dalam perjalanan ke Jakarta ia berhasil menulis sebuah makalah dengan judul, “Memoirs of A Jugun Ianfu.”

Leave a Comment

error: Content Dilindungi !!