Nikmatnya Nasgor RM. Etnic Sukses bikin Kalap dan Melupakan Diet

Posted on

Rasa lapar adalah koki terbaik, karena semua masakan jadi enak. Dulu, saya berkeyakinan begitu. Jika Anda pun begitu, Anda salah. Semua teori itu ambyar, setelah saya tidak sengaja makan nasi goreng di Etnic Kaffe, Banjarnegara. Anda mau tahu alasannya?

 

Nama Etnic sudah lama saya dengar. Namun, baru hari itu, Sabtu (18/1/2020) bisa mengunjunginya. Berawal dari permintaan seorang teman, siang itu meski mentari begitu terik, saya bulatkan tekad menuju kota Banjarnegara.

Berangkat dari Wonosobo menggunakan motor Vario 125, meski lampu jarak dekat mati. Saya tidak menyerah. Setelah sarapan pagi, sekitar jam 9.23 motor saya keluarkan dari garasi. Tak lupa meminta izin dan doa kepada ibu.

Usai berpamitan pada orang tua, saya mulai keluar menuju jalanan besar, kemudian melaju ke arah jalanan raya antar kota. Melaju dengan kecepatan 80km perjam, perjalanan hari itu, tidak butuh waktu lama, sekitar 40 menit saja. Tepat jam 10 lebih 18 menit, pandangan mata saya tertuju kepada Menara yang tinggi menjulang.

Menara Masjid An-nur, tak menunggu lama. Sepeda saya arahkan ke sana. Sambil menunggu janji pertama dengan Kepala Sekolah di salah satu SMP, di kota Banjarnegara.

ketika sedang asik duduk di teras Masjid, sebuah pesan singkat datang, Bu Warti, sang Kepala Sekolah, rupanya terlambat datang menemui saya. Maka, saya memilih menepi ke Sop Snerek. Yang letaknya sekitar 150 meter dari Masjid An-nur.

Selain karena panas yang cetar, saya ingin mengisi perut.  Tak terasa 14 menit berlalu, Bu Warti justru menemui saya di Sop Snerek.

Etnic Kaffe, Banjarnegara

 

Jujur saja, meski sudah hampir 2 tahun wira-wiri Wonosobo- Banjarnegara, saya tidak tahu letak Etnic. Atas petunjuk darI Bu War, akhirnya saya tahu letak persisnya, yang ternyata biasa saya lewati.

Usai salat dhuhur, saya meluncur ke Etnic. Dan tentu saja saya sempatkan mengirimkan pesan WhatsApp kepada Ibu Dewi, Owner Etnice. Dialah orang yang akan saya temui, untuk menyampaikan amanah dari teman di Yogyakarta.

Tepat jam 12.33 WIB, saya sudah masuk ke Etnic.

Melihat bar berisi alat kopi, rupanya secangkir Robust Dampit pagi tadi, belum memuaskan dahaga saya. Tanpa menunggu lama, saya pun memesan 1 porsi kopi dengan seduhan V60.

Saya heran, kenapa penjualnya justru melongo menatap saya?

Mungkin saya salah batinku dalam hati. Saya ulangi lagi, kali ini minta secangkir Americano, namun si penjual masih melongo. Saya coba pesen, Long Black. Tetap sama.

Sedikit jengkel, saya menghampiri si penjaga. Tapi, penjelasan darinya membuat saya tergelak, “Mohon maaf, Mas. Saya belum diajari soal begituan.”

“Lah, apa yang bisa kamu bikin?”

“Baru kopi tubruk,” jawabnya merasa bersalah. Saya pun mengaminkan saja. Apalagi saya melihat sebungkus Kopi Wamena Raw yang lezat menggoda. Imajinasi saya berdentum. Melayang kepada Japaness iced coffe. Tentu saja, es kopi jepang dengan biji kopi Wamena, sangat nikmat diminum tengah hari yang panas begini.

Akan tetapi keinginan itu hilang. Setelah tahu Baristanya belum datang.

Usai memesan kopi tubruk, saya seret kaki menuju tempat duduk. Kali ini saya memaksa langkah menuju tempat lesehan.

Mungkin sekitar 5 menitan, si penjaga datang, melempar senyum membawa nampan berisi segelas kopi tubruk. Ia sengaja duduk dan memancing obrolan soal kopi. Rupanya, ia tertarik dengan penjelasanku tadi.

Sambil menunggu Bu Dewi datang, saya ajak diskusi mengenai kopi dan cara membuatnya. Ia manggut-manggut, bahkan mengira saya punya kaffe sendiri di Wonosobo.

Nasi Goreng Etnic Kaffe: Kuliner Unik yang Bikin Lupa Diet

 

Sesi selanjutnya pun tiba. Seorang wanita paruh baya, datang dengan melempar senyuman. Wajahnya bulat telor, dengan bibir semerah semangka.

Kacamata kecil mungil bertengger di hidungnya yang tidak mancung. Namun meski kerangkanya mongoloid, ringkih dan kecil, ia sangat energik. Penuh tenaga. Hanya duduk sebentar, menyapa saya, lalu ia pamit sambil mengatakan, “Nasi goreng. Saya buatkan dulu.”

Sebenarnya perut sudah penuh. Akan tetapi bagaimana menolak, 15 menitan setelahnya sepiring nasi goreng plus telor dadar datang.

Sajian sudah terhidang, perut sudah penuh. Bingung menolaknya, saya berencana makan dengan lambat.

Dengan malas saya mengambil piring tersebut, tetiba hidung saya menangkap sesuatu yang asing. Ini aneh, belum pernah mendapatkan nasi goreng dengan bumbu rempah seperti ini. Meski rempah tapi sangat soft. Sekilas ingatan saya melayang pada Nasi Samarkhand yang dijual di Arab Saudi.

Perut sudah terisi penuh, tapi rasa penasaran memaksa saya mengambil sesuap. Dan rasanya unik, nasinya lembut. Ketika saya menempatkan nasi di lidah, rasa rempah menyebar hingga memaksa saya untuk memasukkan suapan lain.

Aroma rempah yang khas, nasi yang lembut, dan rasa umami yang dominan, memaksa saya untuk terus memasukkan nasi goreng ke dalam mulut. Tak terasa, sepiring nasi goreng habis saya santap. Melihat sisa nasi di piring, saya tertawa sendiri. Lalu berujar ringan, “Ternyata rasa lapar bukan koki terbaik. Buktinya sudah kenyang, ketemu masakan enak, saya kalap.”

Resep Nasi Goreng Mesir

 

Meski saya cocok dengan rempah di nasi goreng tersebut, saya teringat nasi goreng Mesir. Sehingga sore ini, sesampai di rumah, saya sempatkan menuliskan resep tersebut.

Nasi Goreng Mesir, pada intinya mirip dengan nasi goreng kambing. Hanya saja, kalau bumbu otentik biasanya tidak memakai jinten hitam khas Indonesia. Karena biasanya jinten yang dipakai adalah Sahi jeera atau jinten hitam arab.

Tertarik dengan nasi goreng Mesir? simak resepnya di bawah ini.

Bahan:

  • 1 piring nasi putih pera
  • 1/2 siung bawang bombay iris dadu
  • 3 siung bawang putih cincang halus
  • 1 sendok makan minyak samin/ butter unsalted juga bisa
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa

Bumbu Halus:

  • 1 sdt kayu manis
  • 2 buah kembang lawang
  • 1 sdt jinten hitam
  • 1/2 biji pala
  • 1 sdt lada hitam
  • 3 butir cengkih
  • 3 cm jahe
  • 3 daun jeruk purut
  • Serai
  • 4 butir Kapulaga Jawa

Cara Membuat:

  • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum dengan minyak samin
  • Masukkan nasi dan aduk sampai rata kemudian masukkan bumbu halus
  • Aduk kembali sampai rata, berikan kecap asin dan kecap manis sesuai selera
  • Tes rasa. Tambahkan garam dan penyedap
  • Jika sudah pas, angkat dan sajikan dengan telor dadar atau irisan daging kambing

Tidak lengkap rasanya kalau cuma menulis resep tanpa praktek, meski saya sudah biasa memasaknya, sore ini saya rasa perlu membuatnya kembali. Dan saya teringat masih ada daging kambing sisa kemarin.

Maka, dengan penuh semangat saya pun meracik bumbu untuk membuat 2 piring nasi goreng Mesir. Untuk saya, dan ibunda tercinta. Siapa tahu ibunda suka dan saya pun dapat doa, agar disegerakan mendapatkan pasangan hidup. []

 

Alamat Etnic Kaffe

Jl. Bambang Sugeng No.31, Semarang, Kec. Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah 53411

Jam buka: 9.00 WIB – 21.00 WIB

Telepon: (0286) 592272

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *