Resep dawet ayu banjarnegara asli
Ilustrasi Dawet Ayu

Love, Eat dan Resep Dawet Ayu Banjarnegara

Posted on

Jika pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma.” sepertinya saya juga harus mengatakan, “Banyak jalan menuju Banjarnegara, misalnya seputar Love, Eat dan Resep Dawet Ayu Banjarnegara.” saya sudah merasakannya. Ketiga hal tersebut sukses menyihir saya hingga setiap pekan harus mengunjungi kota ini.

Tahun 2018 sebenarnya bukan pertama kali saya menginjakkan kaki di kota dawet ini. Jauh sebelumnya, tahun 2006 saya sudah masuk ke Banjarnegara. Hanya saja melalui jalan berbeda. Tetapi, tahun 2018 saya didaulat menjadi pelatih, melatih menulis untuk para guru. Seorang teman berseloroh, saya adalah Gurunya Guru.

Hal yang mengasyikkan di awal tahun 2018 adalah hadirnya seorang gadis pujaan. Di sinilah Love menjelma menjadi penyemangat saya paling militan. Ke Ge-Er-an saya semakin menjadi, ketika orang tuanya menyambut dengan baik niatan saya.

Maka jadilah saya menanamkan impian di kota ini. Impian sebagai warga yang cinta akan kuliner, dan kemajuan peradabannya.

Gerilya cinta dimulai. Memang akhirnya berakhir dengan kepiluan, sang ibu hanya me-modusi saya. Setelah sekian lama menunggu, saya hanya jadi kandidat tersisih. Tapi its oke. Saya akan terus melanjutkan mimpi.

Tanpa mereka, dan tanpa rasa yang sempat membuat saya bangga. Kini Love tersebut telah berakhir. Tapi semangat saya tidak akan berakhir.

Kuliner Banjarnegara Penuh Pesona

Rasa lapar dan patah hati, jika disertai dompet kosong akan jadi cambuk paling dahsyat untuk masa depan. Tapi saya tidak. Rasa lapar dan patah hati membawa saya ke petualangan kuliner di kota ini.

Baca juga: Nikmatnya Nasgor RM. Etnic Sukses Bikin Kalap dan Lupa Diet

Terbukti deretan makanan enak khas, maupun modern pernah saya cicipi. Sebut saja pecel di Kedai “Kopi Ngebul” yang ada di Madukara. Kemudian Sop Snerek Mbak Upi yang letaknya hanya 100 meteran dari Masjid Agung An-nur. Serta banyak lagi yang lain.

Di sini juga saya makan Sup Gurame hampir 1 kilo di “Rumah Makan Sari Rasa,” Semampir, Banjarnegara. Sebelumnya di Wonosobo benar-benar monoton soal kuliner. Tetapi Kuliner Banjarnegara penuh pesona. Hingga saya tidak pernah kapok mencoba dan mencoba.

Dari sekian rasa dan jenis kuliner. Ada satu dessert yang membuat saya jatuh hati, yakni dawet ayu.

Dawet, mungkin banyak daerah yang memiliki. Sebut saja Dawet Jembut Ireng khas Purworejo. Meski namanya terkesan jorok, sebenarnya itu hanya singkatan dari Dawet Jembatan Butuh yang berwarna hitam.

Dawet di Banjarnegara lebih simpel daripada Wonosobo, di Wonosobo dessert ini melibatkan banyak sekali bahan. Hingga ada yang menyebut es buah. Tapi di Banjarnegara dawet hanya berisi cendol dan air saja. Air ini terbuat dari santan yang dimasak dengan daun pandan. Kemudian sesendok gula aren membuat lidah Anda semakin bergoyang, dan imajinasi melayang. Karena rasa manis gula aren memang antimainstream, sehingga menurut saya lebih kearah rasa alami nan segar.

Bagi saya, arti eat yang sebenarnya pada kota Banjarnegara adalah dawet.

Karena Sup Iga RM. Sari Rasa, Sop Snerek Mbak Upi dan kopi atau lainnya bisa didapati di tempat lain. Namun dawet ayu hanya ada di Banjarnegara.

Sejarah Dawet Ayu dan Penamaannya

Keterangan tertulis, kapan dawet ayu tercipta memang belum saya dapatkan sampai saat ini. Namun informasi, mengapa dinamakan dawet ayu sudah sangat banyak diulas. Bahkan tertulis di Wikipedia juga.

Setidaknya, penamaan ada 3 versi, pertama dari keterangan ketua Dewan Kesenian Banjarnegara, Tjundarso. Menurutnya nama tersebut berasal dari lagu karya Seniman Banjarnegara, Bono. Ia  mencipta lagu di tahun 1970 an dan meledak di tahun 1980 an. Hingga nama Dawet Ayu dikenal nasional.

Versi kedua dari Ahmad Thohari, budayawan Banyumas, nama tersebut adalah dari penyebutan untuk penjual cantik. Sedangkan versi ketiga mirip dengan keterangan dari Ahmad Thohari.

Saya tidak akan mengajak Anda mempedebatkan asal-usul nama tersebut.

Sekarang, Anda perhatikan! Dawet ini hanya sebuah desseet. Cara membuatnya mudah sekali. Jepara ada Dawet, terbuat dari Sagu Aren, kalau Banjarnegara terbuat tepung beras dan pati. Mudah sekali dibuat.

Dan minuman ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Bukan cuma di jawa, di Lombok, Sumatera, dan semenanjung timur juga  ada penjual dawet ayu Banjarnegara. Sebagai bukti, Anda bisa Googling saja. Karena jika, harus mendatangi lokasi ke seluruh Indonesia akan memakan waktu lama dan biaya yang banyak. Dawet juga menjadi idola nasional. Sempat viral dengan adanya nyanyian cendol dawet.

FTV di SCTV juga sempat menayangkan film bergenre romance dengan tema penjual dawet ayu, Banjarnegara. Segelas dawet Banjarnegara juga murah sekali. Jika Anda meminumnya di kota Banjarnegara, hanya 5000-7000 saja.

Saya sendiri, selama wira-wiri ke kota tetangga ini, jika membeli Dawet lebih suka dengan gulanya sedikit. Dan entahlah, kenapa saya begitu betah di kesana. Padahal perjalanan juga tidak pendek, setidaknya saya harus menempuh 40 menit perjalanan untuk bisa ke sana.  Seorang teman berkelakar, katanya saya sudah terkena mitos dawet Ayu.

Mitos Dawet Ayu Banjarnegara

Jika Anda biasa minum Dawet Ayu di Jakarta atau tempat lainnya, Anda belum mencoba mitos. Tapi cobalah datang ke Banjarnegara dan minum segelas dawet di sana tanpa jeda. Artinya Anda harus minum seperti orang haus.

Dan seminggu kemudian Anda akan kembali ke Banjarnegara.

Percaya?

Entahlah, mungkin kedengaran konyol. Akan tetapi, kadang mitos ini mencocoki dengan fakta. Contohnya Legenda Tampomas yang saya tulis beberapa waktu lalu.

Baca juga:

Bisa saja Anda tidak percaya dengan hal tersebut. Tapi, setidaknya cobalah dulu. Kunjungi Banjarnegara dan minum segelas dawet laiknya orang kehausan. Buktikan sendiri kalau Anda akan pulang ke kota tersebut dalam waktu dekat.

Saya sendiri, sangat suka minum dawet di daerah Alun-alun. Bagi saya, selain murah, juga enak diminum ketika sedang terik.

Beberapa waktu ini mentari begitu membara. setiap kali saya ke sana selalu mencari dawet yang pertama kali. Sering juga, di Wonosobo saya memaksakan diri untuk mencari dawet. Di kota saya ada juga penjual dawet ayu dari Banjarnegara. Segelasnya hanya 5 ribu. Soal rasa, tentu saja memaksa lidah Anda untuk mengatakan, “Segelas lagi.”

Resep Dawet Ayu Banjarnegara

Berbeda dengan dawet dari kota lain, di sini untuk membuat dawet tidak butuh ribet. Bahannya mudah didapatkan. Apa saja? cek ya!

Bahan:

  • 200 gr Tepung beras
  • 150 gr Tepung tapioka
  • 100 ml Air sari pandan
  • 600 ml Air matang

Bahan Santan:

  • 1 Liter santan
  • Garam sejumput
  • Daun pandan

Saus Gula

  • 500 gram gula merah
  • Air secukupnya

Cara Membuat Dawet Ayu:

  • Rebus bahan sambil diaduk sampai kental kemudian cetak dengan cetakan cendol atau dengan plastik dilubangi ujungnya, dan hasil cetakan masukkan ke air dingin
  • Rebus santan sampai harum
  • Rebus gula merah sampai cair
  • Sajikan dengan es serut atau semisalnya.
  • Bisa disajikan memakai gelas atau mangkok

Cara Menyajikan:

  • Ambil gelas, kemudian berikan cendol
  • Tambahkan es jika suka
  • Setelahnya beri gula merah dan santan
  • Sajikan dingin lebih nikmat

Tidak sulit, ya, membuat dawet ayu? karena bahan mudah didapatkan. Berbeda dengan dawet dari Jepara, yang bahannya susah. Tapi, sepertinya Anda berhutang pada saya, setelah membaca artikel ini. Bukan hutang dalam bentuk uang, jika Anda merasa resep dawet ayu Banjarnegara yang saya tulis bermanfaat, hutang Anda adalah klik tombol share. Agar artikel ini lebih banyak dibaca orang. Salam cendol dawet. []

Bibliografi:

  1. n.n.t.t. “Dawet Ayu” Dilihat 22 Januari 2020. < https://id.wikipedia.org/wiki/Dawet_ayu>
  2. H Winarno, Hery. 2014. “Kisah Soeharto dan asal muasal nama Dawet Ayu Banjarnegara” 17 Desember 2014. Dilihat 22 Januari 2020. <https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-soeharto-dan-asal-muasal-nama-dawet-ayu-khas-banjarnegara.html>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *