Gambar daun talas
Ilustrasi air di daun talas

Novel Merah Putih Bag. l: Prolog: Hujan Di Daun Talas

Posted on

Melalui telinga, aku tangkap suara  hujan yang semakin rimbun. Bisingnya memecah sunyi. Sangat memecah sunyi. Kakiku juga merasakan percikannya semakin keras. Bahkan sebagian bajuku juga terkena. Basah. Aku sadar posisiku di dekat sawah. Hanya berlindung di atap kecil. Namun, hatiku selalu merasa tenang di sini. Entah mengapa.

Tangan kanan kuangkat agar mataku bisa menatap jam di pergelangan. Jarum menunjukan pukul 4 sore lebih semenit. Berarti sudah 4 jam aku duduk di sini. Sedari tadi hanya memandang hijaunya padi. Dan bebukitan yang melambai. Sengaja kumanjakan mata ke sini. Agar bisa jeda dari aktifitasku yang padat sebagai pemburu berita untuk sebuah surat kabar Nasional. Disela hujan yang turun, sayup kudengar suara adzan. Merdu. Mendayu, hatiku terharu. Aku baru teringat belum sembahyang Ashar. Tapi apa daya, sudah 2 jam aku terjebak hujan. Belum juga ada tanda reda.

Kuedarkan pandanganku.

Sekitar 30 meter ke kanan adalah kantorku. Megah dan besar. Meski tidak sebesar kantor pusat, namun selalu membuatku kagum. Hujan menutupinya. Mataku tetap bisa menatap jelas. Sebuah pos satpam gagah berdiri di depan seumpama sebuah titik di belangga susu. Kantor itu, selalu membuatku bangga.

Kutarik nafas panjang. Lalu kuembuskan kuat mencari lega. Kakiku yang separuh basah kunaikan. Kini aku duduk bersila beralas dipan ala kadarnya. Karena gubug ini hanya tempat istirahat ketika lelah bekerja di sawah.

Tas di punggung kubuka. Mataku hinggap pada dua buah benda bulat berwarna putih dengan tekstur lunak. Di tengahnya ada titik merah. Dan titik hitam. kuambil satu, lalu kubelah paksa dengan tangan. Tanpa kulihat, belahan itu kumasukan ke mulut. Dalam hitungan detik hancurlah karena gigi taringku menggilasnya. Tak menunggu lama, ku lumat lagi sisanya. Sampai habis satu buah.

Air dari sebuah botol menggelontor tenggorokannku. Saat selesai menikmatinya, telingaku di kejutkan suara menggelegar di langit. Ingat posisiku di tengah sawah, hatiku ngeri. Tapi apa daya, hujan mengurungku. Jika aku menerobos, kameraku terancam. Padahal, untuk membelinya harus menabung selama setahun.

Di satu sisi, jika aku bertahan di gubug itu, khawatir petir akan menciumku. Beberapa hari yang lalu, dua petani yang sedang berteduh mengalaminya. Tepat jam 2 siang mereka gosong karena di sambar petir.

Petir kembali membelah langit. Kilatannya jelas tertangkap mataku. Menutupi kecemasanku, kubaca serangkai doa dari al-Qur’an yang kuhafal.

Tiba-tiba,

Di balik rimbunnya hujan, telingaku menangkap suara lembut dari saku celana. Kurogoh sakuku, hapeku bergetar-getar. Di sudut layar, sebuah tanda amplop kecil berkedip. Ku gerakkan ujung jariku menguak layar gorilla glas hapeku. Seketika mataku membelalak. Sebuah pesan dengan nomor area Turki. Iya, Turki. Aku sangat hafal. Tidak salah lagi.

“Apa kabarnya, Mas Izal. Kapan ke Kahramanmaras?”

Kalimat terakhir di pesan singkat itu membuyarkan lamunanku. Kahramanmaras, tidak mungkin bisa lupakan semuanya.  Ingatanku seperti terlempar dalam kubangan api. Dadaku bergetar. Aku ingat kalau akhir tahun harus berangkat ke Turki untuk melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa peraih beasiswa S-2.

Kubalas pesan itu secara singkat. Dan kutanyakan kabarnya. Setelahnya aku terpekur. Lupa keinginan untuk menerobos hujan. Melupakan petir yang mengancam. Ingatanku tertuju pada peristiwa tidak sengaja, namun sangat mengharu biru. Bahkan menjadi kenangan pahit bagiku. Bocah 10 tahun itu membuatku bersemangat untuk melanjutkan keinginanku yang tertunda.

Pesan di hapeku muncul lagi. Namun mataku justru tertarik memandang hujan di daun talas. Kali ini, aku tidak bisa memungkiri. Hatiku ngilu menyebut nama Kahramanmaras. Aku merasa lemas di bagian lutut. Sedikit kupaksa pantatku berpindah. Lalu kusandarkan punggung di tiang gubuk di tepi sawah ini. Anganku melayang, menerawang jauh. Sesaat kemudian, kembali kudengar petir menggelegar. Bersamaan dengan itu, dari sudut mataku muncul tetesan air bening. Air hangat. Pelan namun pasti meluncur ke pipiku. Lalu turun ke bajuku. Dan basah.

Cermin neuron dalam otakku membolak-balik cepat sekali. Seakan ingin membawaku ke kisah beberapa waktu silam. Kucoba menghalaunya, namun semuanya datang dengan cepat. Dadaku sesak bagai tertindih batu ribuan ton. Kucari kelegaan. Kupandang pesan di hapeku. Lalu kubalas singkat pesan itu.

“Baik, dek. Kalau jadi akhir tahun. Sesuai beasiswa.”

Dalam sekejap pesan itu lenyap. Melayang melalui jaringan rumit. Menembus lintas kota, Negara lalu benua. Dan sampai kembali kepada si pengirim pesan di Turki. Mataku kupaksa menyantap ribuan titik air yang jatuh dari langit. Berharap ada kelegaan. Sangat tidak kuduga pesan itu akan datang. Padahal, sudah hamper setahun tidak ada kabar. Aku sendiri hilang kontak, karena hapeku di copet orang.

Hape penuh kenangan. Bukan Cuma nomor penting, namun foto seorang bocah kecil berusia 10 an tahun. Bagiku, ia inspirasi. Ialah yang menyadarkanku arti kehidupan. Dan ia juga yang membawaku mengambil beasiswa S2 di Kahramanmaras, Turki. Untuknya aku pergi.

Kenangan bersamanya tidak pernah kulupakan. Apalagi detik terakhir bersamanya. Seakan tidak mungkin ada lagi bocah sepertinya. Aku sadar dari lamunanku karena suara lembut dari iphoneku. Sebuah pesan di kirim lagi dari Kahramanmaras. Kubalas lagi pesan itu. selanjutnya diam. Ia membalas pesanku 10 menit kemudian. Sedangkan aku masih membeku di bawah rimbun hujan. Dan lamunan melayang.

Telingaku mendengar suara kecipak di belakang. Tepat disebuah selokan kecil yang mengaliri sawah. Meski semakin sering dan terdengar keras, sedikitpun aku tak berminat menoleh. Hanya percikan air hujan yang semakin keras menggodaku. Dingin menyengat saat petir kembali manja menampakan diri. Suaranya membuatku takut.

Petir itu mengingatkanku kepada panti Asuhan laknat. Tiba-tiba dadaku mengemuruh. Seperti ada guntur yang akan menggelegar. Coba kuredam, tidak bisa. Dari dada mengalir menuju tenggorokan. Di sana tercekak sebuah kekuatan halus. Coba kutahan tetap tidak bisa. Kepalaku panas. Semakin lama panas itu menjalar ke mata. Detik itu juga kukeluarkan Guntur yang tertahan.

“Bangsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatt.”

Saat sedang ingin memaki, iphoneku kembali bergetar. Dari nadanya, aku tahu itu sebuah panggilan telephone. Kuangkat. Masih sama, nomor kode Turki. Tepatnya Kahramanmaras. Dengan ujung jari telunjuk kugeser kekanan layar hape kesayanganku. Lalu, saat kuletakkan ke telinga, terdengar suara lembut menyapaku.

Tapi aku tak bisa menahan rasa sakit di hati. Akupun berbicara dengan mata bercucuran air bening. Dan dadaku sesak, Abdul Azis sempat menanyakannya. Hanya kujawab ringan kalau aku sedang bersedih. Abdul Aziz kembali mendesakku.

Aku diam tak menjawab. Ia semakin penasaran. Kualihkan pembicaraan seputar kursus bahasa Turki. Dan keinginanku untuk mencari kerja sambil kuliah nantinya.

Usai menjawab pertanyaanku, Abduzl Aziz kembali menukas, kalau ia ingin tahu penyebab aku menangis. Diamku bukan jawaban, maka kupertimbangkan untuk bercerita. Kisah yang pernah menggemparkan Indonesia. Awalnya, aku bertanya padanya,

“Bagaimana menurutmu jika ada bocah berumur 10 tahun, bermodalkan uang 100 ribu hasil menabung setahun, dan satu stel pakaian merah putih yang sudah kumal, seorang diri ia menyebrangi lautan agar bisa terus sekolah?”

“Miris dan menyedihkan,” sahutnya.

Aku menjeda sesaat. Kutarik nafas panjang. Lalu kuembuskan. Hujan tetap deras mengguyur bumi. Petir sesekali tetap menunjukan kepongahannya. Dan aku membeku di sebuah gubug reyot di persawahan. Ketika hati sudah mantap, kutata diri. “Inilah kisahnya,” lirihku kepadanya.

Bersambung:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *