Tampomas, Banjarnegara: Gunung yang Hilang dan Berubah jadi Danau

Badannya kekar, namun sore itu ia tidak kuasa menyeret kakinya. Ia berjalan terhuyung dengan pandangan menghadap ke bawah. Tak lama kemudian, ia menumbukkan lutut ke tanah. Memosisikan diri seperti hendak mau sujud. Dari sudut matanya, air bening mencucur, membasahi pipinya yang putih pucat. Lalu ia memekik, “Tuhan, jika cinta ini haram untukku, mengapa Kau biarkan ia tumbuh menjadi istana begitu megahnya. Kau ambil gadisku, sekarang aku tantang firman-Mu dari sini. Kutuklah aku menjadi batu, seperti Kau ubah wujud kekasihku.”

Bicara Gunung Tampomas, Banjarnegara, rasanya tidak lengkap jika tidak mengulas kisah Pengantin Elik. Konon, kisah ini adalah awal mula munculnya Gunung Wadon dan Gunung Lanang.

Bagi penikmat wisata Jawa Tengah dan sekitarnya, Banjarnegara mungkin bukan kota yang asing. Di kota ini tiap tahun diadakan Dieng Culture Festival. Sebuah pagelaran yang dikunjungi ribuan manusia, meski event ini hanya berlangsung beberapa hari saja.

Kota Banjarnegara, memiliki kekayaan alam yang melimpah. Jika di ujung utara ada Dieng, maka di Selatan. Tepatnya 6 kilometer dari pusat kota ada sebuah Gunung yang hilang dan berubah jadi Danau. Nama Gunung itu adalah Tampomas.

Legenda Gunung Tampomas, Banjarnegara

Pada (20/12/2019) bulan  Desember 2019, saya berkesempatan bertemu dengan Andika Dwi Prasetya, seorang pengurus wisata Tampomas di kediamannya.  Di desa Gentansari. Tepat di bawah Gunung Tampomas.

Maksud kedatangan saya, tentu saja karena rasa penasaran, tentang gunung yang hilang dan berubah jadi danau. Di sisi lain, mitologi Pengantin Elik, benar -benar membuat saya semakin tidak sabar untuk bisa mengetahui cerita asli dari penduduk lokal.

Meski siang begitu terik, tidak menyurutkan niat saya untuk segera bertemu di rumah Ketua Pokdarwis Gentansari tersebut. Itupun setelah menunggu sekian lama. Sebab tak mudah menemui seorang Pengurus Kelompok Sadar Wisata yang super sibuk sepertinya.

Perjalanan dimulai dari Masjid Agung An-nur, Banjarnegara. Mula-mula, saya menuju arah Purwokerto. Dan sesampai di pasar Pucang, ambil arah kiri. Kemudian melewati jalanan desa.

Mendekati desa Masaran, jalanan sedikit rusak. Namun masih layak untuk dilalui. Tak lama, jarak dari pertigaan Pasar Pucang sampai desa Masaran sekitar 10 menitan saja. Jika sudah kenal dengan medannya, mungkin jarak tempuh cuma 5 menit.

Sesampai di pertigaan desa Masaran, saya belok kiri. Sesuai dengan share loc dari Andika. Lalu jalan lurus. Jarak dari pertigaan desa Masaran sampai ke Tampomas, kurang lebih 5 kilometer.

Dengan kecepatan sedang, Anda bisa menempuh kurang dari 20 menit. Saya pun begitu, jalanan utama cukup mulus. Tetapi masuk ke area Tampomas, jalanan masih berbatu. Ada beberapa pemandangan tambang pasir serta batu, tentunya batu tersebut dari Gunung Tampomas, begitu pikir saya saat melihatnya.

Jalanan yang berbelok, memaksa saya untuk tersesat. Walau sebenarnya sudah dibekali share loc. Mungkin karena saya malas memakainya, dan lebih suka bertanya kepada orang sekitar.

Rasanya, terlalu sayang jika melewatkan momentum beramah-tamah tersebut. Bukankah sejak ada Google Maps, sekarang orang susah berinteraksi sosial? Ya, karena mereka mengandalkan teknologi. Secara otomatis nilai kemanusiaan tergerus.

Seorang ibu berusia sekitar 56 tahun memberitahukan kalau saya salah arah. Harusnya belok kiri, saya justru belok kanan. Bukannya ke desa Gentansari, justru ke desa Pagedongan.

Tapi, semua itu bisa diatasi dengan mudah. Tak lama, setelah saya arahkan kendaraan ke arah kanan, ternyata semua orang kenal dengan sosok Andika Dwi Prasetya. Ketika saya bertanya mengenai nama tersebut. Langsung diarahkan.

Sebelum sampai di rumahnya, saya sempatkan memberi kabar. Tiba di rumah Andika, saya disambut senyuman lebar. Lelaki kurus, ceking tersebut sangat ramah.

Hanya sebentar basa-basi, Andika langsung mengajak saya masuk. Di dalam rumah, sudah tersedia kopi hitam nasgitel dan sepiring mendoan. Saya takjub dengan penghargaan kecil tersebut. Perut keroncongan saya pun terobati sudah.

Sambil menyeruput kopi hitam khas Banjarnegara, saya simak penuturan Andika mengenai Asal-usul Gunung Tampomas. Hingga akhirnya jadi obyek wisata.

Menurut Andika, ada 3 mitologi mengenai Tampomas, 2 berkaitan dengan Dieng. Sedangkan yang terakhir adalah legenda Pengantin Elik.

Pengantin Elik inilah yang menjelma menjadi batu. Karena pernikahan  mereka tidak direstui ayah si gadis. Jelmaan Pengantin Elik tersebut kini dikenal Gunung Tampomas dan Gunung Lanang. Tampomas sendiri, sebelumnya dikenal dengan nama Gunung Wadon.

Hanya saja, sekitar tahun 1950 an, beredar kabar kalau di dalam gunung ada emas setampo. Makanya perangkat desa kala itu menyebarkan sanggahan bahwa di Gunung Wadon, tampo emas. Lambat laun menjadi julukan baginya, yakni Gunung Tampomas atau Tompomas.

Hilangnya Gunung Tampomas dan Munculnya Danau

Tahun 1970 an, Presiden Soeharto mencanangkan pembangunan PLTA, yang akan mengaliri pulau jawa. Maka, tim pun dikerahkan. Hingga mereka menemukan sebuah gunung, yang bebatuannya bisa digunakan untuk membendung sungai serayu.

Gunung Tampomas diteliti selama setahun. Apakah bebatuanya cukup bagus untuk dijadikan bahan membendung sungai serayu? jawabannya bagus. Pada tahun 1980 pembangunan PLTA dimulai. Mulanya gunung diledakkan dengan dinamit.

Perjalanan 5 tahun memindahkan bebatuan Gunung Tampomas akhirnya meninggalkan luka. Gunung tersebut hilang, menyisakan cerukan yang semakin lama menjadi danau.

Di sisi lain, msayarakat semakin yakin, diledakkannya Gunung Tampomas adalah bukti ramalan menjadi kenyataan, ramalan tentang; Tampomas akan longsor, dan longsorannya membendung Sungai Serayu. Konon, salah satu permintaan dari Gunung Wadon adalah, selendang sepanjang pulau jawa berwarna kuning.

Selendang itu terwujud. Ternyata maksudnya adalah aliran listrik yang kini menjadi penerangan bagi warga sekitar dan pulau jawa, Bali.

Kini, setelah berpuluh tahun, danau dan gunung tersebut difungsikan jadi tempat wisata. Bahkan menjadi salah satu obyek wisata Andalan di kota Banjarnegara.

Ada banyak fasilitas wisata di sana. Beberapa yang sempat saya catat berdasarkan keterangan dari Andika adalah:

  1. Gethek atau perahu di danau. Tiket hanya 10 ribuan
  2. Offroad dengan Jeep. Hitungan per 30 menit. Tidak mahal, hanya 100 ribuan
  3. Camping. Bisa menampung 200 an tenda
  4. Kuliner. Tersedia berbagai kuliner lokal yang enak dan murah
  5. Gazebo. Spot untuk rehat bersama keluarga. Disewakan dengan biaya terjangkau
  6. Toilet, Musholla. Toilet ada 7. Semuanya terjaga kebersihan dan saluran airnya
  7. Tempat parkir mobil dan kendaraan roda dua

Menarik sekali. Berbeda dengan obyek wisata alam lainnya, masuk ke Tampomas hanya dibebani HTM Rp5000,-oo. Tidak akan membuat kantong jebol.

Saking asiknya mendengarkan cerita dari Andika, tak terasa 2 gelas kopi hitam, sepiring mendoan habis saya lumat. Tidak enak dengan tuan rumah, saya berpura-pura pamit karena hari sudah siang. Tentu saja, saya akan kembali lagi, karena masih banyak yang ingin saya ketahui. Selain itu saya harus meneruskan perjalanan.

Tepat azan dhuhur berkumandang dari Smartphone saya, kaki kembali saya paksa melangkah untuk menelusuri keramahan masyarakat Banjarnegara di tempat lain. Kali ini tujuan saya adalah wisata kuliner.

Leave a Comment

error: Content Dilindungi !!