Ilustrasi sayang

Novel Merah Putih Bab Il: Sayang dengan Kampung Ditinggalkan, Sayang dengan Anak Dimarahi

Posted on

Kaki kecilnya melangkah diantara tumpahan kuah rendang dan piring pecah. Mengambil sapu. Pelan sekali ia menggerakan sapu. Menggiring kuah kari dan pecahan piring menuju dekat pintu. Mulutnya merintih kecil saat mengetahui tenaganya tidak seberapa kuat untuk memindahkan tumpukan itu. Tapi ia tetap mencoba. Diurainya satu persatu pecahan piring. Tetap gagal. Lalu, ia menggunakan tangannya.

Diambilnya pecahan piring. Kemudian, ia mundur beberapa langkah, meraih sebuah plastic hitam yang terselip di dinding. Ia kembali. Memasukan pecahan piring ke dalam plastic. Perlahan sekali. Tiba-tiba ia menggerakkan tangannya keatas dan kebawah cepat sekali. Dari ujung jarinya menyembul cairan berwarna merah. Semakin lama cairan itu banyak. Menetesi tumpukan piring. Lantainya ikut memerah.

Ia meringis kesakitan. Mulutnya menganga. Mata kecilnya hamper tenggelam oleh lemak di sekitarnya. Ia memijit jarinya dengan tangan kiri. Mencoba mengeluarkan pecahan piring dari lukanya. Merasa putus asa, kepalanya digerakkan kekanan-kekiri. Tapi matanya hanya menangkap dinding kayu serta perabotan usang. Alat masak tergantung di sebelah kirinya. Sedangkan sebelah kanan menggantung Katindiang[1] dan Pangkua [2]milik Angkunya. Pangkua itulah satu-satunya alat untuk mencari nafkah di kebun milik Angku Palo [3] desa Ujung Ladang.

Cekatan sekali ia memijat jari telunjuknya. Dengan pelan, sebuah pecahan kaca di keluarkan dari lukanya. Meski kecil, tapi membuatnya nyengir. Ia putuskan menjeda menyapu. Merobek kaosnya. Dan di ikatkan ke jari telunjukya. Berhasil. Untuk sementara, rasa nyeri tertahan.

Tapi wajahnya tetap nyengir. Ia berdiri dari tempatnya. Lalu mundur beberapa langkah. Menempatkan pantatnya di bangku kecil tempat Angku[4]nya biasa duduk. Memijit-mijit jarinya yang terkena pecahan kaca. Ia mengaduh. Matanya menatap sekeliling. Hhinggap ke tumpukan pecahan piring. Kotor sekali.

Ia bangkit lagi. Mengambil sapu, menyapu tumpahan kuah rendang. Semakin kuat ia menyapu, semakin banyak lantai tanah itu kotor. Diletakkan sapunya. Beralih ke tumpukan pecahan piring. Memasukkan kembali kedalam plastic hitam. Pelan sekali. Dipilih pecahan itu. Ia menjeda. Keluar dari ruangan kecil berlantai tanah itu.

Semenit kemudian kembali dengan sebuah kertas di tangannya. Berteman sepi dan hening ia membereskan sampah itu. Akhirnya semua pecahan piring itu terkumpul. Ia menepikan. Sayangnya, kuah Rendang dan masakan lainnya demikian banyak tercecer. Lantai tanah kotor semua. Lamang Tape pun hancur karena terinjak-injak. Daging Rendang berserakan. Kotor.

Usai membereskan pecahan piring, daging Rendang dan makanan lainnya yang sudah hancur dengan mudah di masukan tempat sampah. Ketika itu, telinganya menangkap suara berdentang. Sebanyak delapan kali suara itu terulang. Si bocah berhenti seesaat. Nafasnya tertahan kecil. Matanya menatap ke dinding kayu rumahnya. Lalu menarik nafas panjang. Di embuskan pelan. Sangat pelan. Ia menggerakkan kepala naik turun. Berhenti. Melanjutkan menyapu. Telinganya menangkap suara Jangkrik dan kodok saling bersahutan. Selalu begitu setiap malam tiba.

Selesai mengurus daging yang sudah kotor, ia memandangi lagi. Lantai tanah benar-benar kotor. Kuah Rendang dan Gulai memaksa lantai itu berubah jadi mengkilat. Sekali lagi wajahnya menciut. Ia menggerakkan tangan kanan memegang perut. Terdengar bunyi kecil darinya. Ia menoleh ke kanan. Tadi siang, tumpukan masakan kesukaannya masih berjejer. Tapi tidak bertahan lamal, hanya 10 an menti setelah amak[5]nya selesai memasak, semua masakan itu berserakan ke tanah.

Si Bocah keluar lagi dan kembali dengan kertas koran setumpuk. Koran itu di direntangkan di lantai tanah yang terkena tumpahan kuah rendang. Satu persatu Koran itu menutupi. Sampai hamper penuh ruangan 3 x2 meter itu.

Kerja kerasnya selama satu jam membuahkan hasil. Warna lantai tanah sudah berubah karena dipenuhi Koran. Ia membuka kaosnya. Kemudian keluar. Di belakang rumah, ia mengambil air dari drum besar berwarna hitam. Air itu di guyurkan ke badannya. Langit sudah menghitam. Bintang juga asyik menari, si bocah begitu berhasrat menikmati segarnya air. Tak peduli suara kodok yang menggoda si bocah  terus mengguyurkan air ke badan kecilnya.

Lima guyuran ke badan. Ia berhenti. Masuk ke dalam rumahnya. Kembali dengan sepotong busa berwarna kuning. Diremas-remas busa itu sambil di tetesi air, busa itu membuih. Setelah buihnya banyak, di usapkan ke seluruh badan hingga menimbulkan buih yang lebih banyak. Sekujur tubuh ia usap. Bahkan, ia membuka celananya lalu mengusap bagian tersembunyinya.

Kembali ia mengguyur badan dengan air sambil berteriak, “Segaarrr.” Wajahnya ceria.

Terhitung 20 an kali mengguyur badannya. Si bocah menghentikan aktifitasnya. Kemudian, memakai celana dan masuk ke rumah. Hati-hati sekali ia melewati Koran yang menutupi tumpahan kuah rendang. Sampai di ruangan berikutnya, ia masuk ke dalam kamar kecil. Diambil kaos dan baju. Baju koko putih yang sudah berubah warna. Sebuah sarung berwana hijau di lilitkan ke perutnya.

Usai menyisir rambut, si bocah mengambil sebuah kain segi empat panjang. Di tengahnya bergambar masjid. Ia menggelar kain itu menghadap ke Makkah. Kemudian ia berdiri di atas kain itu menghadap ke Makkah juga. Mengangkat tangan lalu menyedekapkan tangan di dada. Bibir kecilnya bergerak naik turun.

Pandangannya lurus ke arah gambar masjid di kain. Usai sedekap, ia tempelkan kedua tangan di lutut dengan posisi 75 derajat. Hanya sekitar 20 an detik. Ia berdiri. Kemudian turun menempelkan keningnya di gambar masjid. Kedua tangan sejajar dengan kuping. Sekitar 1 menit ia menahan diri dalam posisi begitu. Lalu duduk. Semua itu diulang dengan penuh takdim. Terkadang, ia membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara nyaring. Kadang ia membaca dengan lirih.

Empat kali ia mengulangnya. Setelahnya, ia akhiri dengan menoleh ke kanan lalu ke kiri diringi sebuah doa singkat yang sejak kecil ia hafal. Ritual selanjutnya adalah menempelkan ujung jempolnya ke dalam sendi jari-jarinya. Di iringi dengan mulut yang berkomat-kamit pelan. Ia lakukan itu sampai ke jari kelingking. Sekitar beberapa kali. Ritual itu diakhiri dengan mengangkat kedua tangan. Dan memilah kata untuk di haturkan kepada Allah.

Biasanya, ia lakukan itu bersama Angkunya. Atau dengan Amaknya. Dulu, saat ia berumur 3 tahun malahan bersama ayah, amak, Angku dan anduang[6]. Sayangnya, Anduang sudah tiada. Ayahnya juga. Seharusnya malam itu ia lakukan bersama amak atau Angkunya. Tapi malam itu, ia sendiri. Ayahnya baru 7 bulan meninggalkannya.

Bocah itu menatap kosong ke dinding kayu. Di tumpukan pakaian. Kemudian menyangga dagunya dengan dua tangan. Bibirnya bergerak lirih, memanggil nama Ayahnya, “ Hasan Anasty.” Mata kecil berkedip cepat. Tapi tiba-tiba matanya menatap tajam. Tangan masih menyangga dagu. Mimic mukanya berubah. Puas menatap dinding kayu, ia menggelengkan kepala. Berdiri. Melipat sarung dan kain sajadah. Disambarnya jaket kumat berwarna hijau. Kakinya melangkah keluar ruangan. Kemudian membuka pintu. Dan ia sampai di selasar rumahnya.

Bocah itu memastikan pintu terkunci rapat. Dengan sarung dan jaket membungkus badan, ia berjalan. Jalan setapak di Desa Ujung Ladang. Ia mengambil jalan lurus saat bertemu perempatan desa. Desa sudah sepi. Sebab, sudah masuk waktu istirahat. Meski beberapa orang masih beraktifitas di luar rumah. Mereka yang diluar rumah pasti memiliki keperluan.

Di pertigaan, seorang lelaki tua menegurnya,

Kama a Ramdan[7]?” lelaki itu memakai baju safari. Peci hitam menghias kepalanya. Reaksinya datar saat menyapa.

“Ke Surau, Angku palo,” katanya sambil memaksa bibirnya ke belakang hingga membentuk senyuman simpul.

“Malam begini?” kali ini sang lelaki tua menunduk sambil menyodorkan tangan. Si bocah menyambutnya. Lalu mencium punggung tangan lelaki tua itu.

“Malam ko?” ucapnya sekali lagi.

Iyo, Angku Palo.”

Amak inda mencari?”

Amak yang menyuruh Ramdan, Angku Palo[8]. Ramdan mau mencari ilmu ke Surau Tuanku Abdul Karim, agar manjadi  Pakiah[9] seperti Buya Hamka.”

Lelaki tua itu mengusap kepala bocah. Lalu mengangguk-angguk. Si bocah menarik bibirnya lebih lebar. Lalu memandang lelaki tua yang dipanggilnya Angku Palo.

Mbara a Umuik, Ramdhan? Alun waktunyo..”

Inda apo-apo Angku. Ramdan suka belajar. Maaf Angku, Ramdan pamit,” tukasnya seraya mengambil tangan lelaki tua itu lalu mencium punggungnya. Si lelaki tua mengambil uang dari saku, lalu di sodotkan kepada Ramdan. Bocah itu menolak dengan alasan, ingin jadi Pakiah. Katanya, Pakiah tidak menerima pemberian tanpa kerja.

Lelaki tua menggeleng kesekian kali. Mengusap kepala si bocah lalu membiarkannya berjalan. Di pandanginya sampai menghilang di kejauhan. Lalu turun ke hutan. Jalan setapak lurus ia telusuri seorang diri. Sepanjang perjalanan, hanya memandang gelap. Langkah kakinya membuahkan hasil, setelah beberapa menit berjalan, matanya menangkap sebuah bangunan panggung. Pucuk bangunan itu mengerucut. Dan dindingnya terbuat dari kayu. Bangunan itu juga kecil. Namun, catnya sangat indah. Dan temaram lampu menghiasi malam itu.

Sesampai di depan bangunan itu, seseorang menegurnya.

“Kama inda pernah Nampak lai ka surai, Ramdhan?”

Ia terkikik sebelum menjawab, “Sekolah Uda Zul. Ramdhan kan masih SD.”

“Oh, masuklah. Alah di tunggu.”

“Uda, kama?”

“Ke WC, ikut?” tukasnya dengan tersenyum. Ramdhan menggeleng lalu menaiki tangga kayu menuju lantai atas.

Sesampai di Surau, Ramdhan langsung tidur. Karena jam di dinding sudah menunjukan waktu jam 9 lebih. Di sana, hanya ia dan dua orang pemuda yang menjelang dewasa. Mereka berdua juga sedang disiapkan untuk merantau. Di Ujung Ladang, surau hanya tinggal satu. Pergeseran adat dan budaya menggerusnya. Dulu, silat menjadi budaya. Hamper seluruh orang Minang bisa silat.

Rata-rata, jika kalian bertanya pada mereka yang lahir tahun 60 ke bawah pasti masih kenal dengan silat. Kecuali yang besar di rantau. Modernisasi menggeser etika yang diwariskan nenek moyang. Bagiku, kebodohan bukanlah perkara abstrak. kebodohan memiliki ujud. Jika ingin mengerti bentuk kebodohan, cobalah datang ke lampu merah perempatan jam tujuh pagi. Pakailah sandal warna-warni. Lalu berhentilah tepat di pinggir.

Berdiri tepat di seberang Zebra Cros.

Perhatikan aba-aba dariku. Dengarkan seperti Anda menikmati lagu Hip-hop: Jika lampu hijau menyala angkatlah kaki kanan 30 detik. Jika lampu kuning menyala turunkan kaki kanan, angkatlah kaki kiri 33 detik. Jika lampu merah menyala tersenyumlah selebar mungkin dan bertepuk tanganlah selama 29 detik. Jika lampu hijau menyala lagi segeralah berlari menyebrang seiring kendaraan yang berjalan dan teriakkan “Bodoh”.

Jika Anda tertabrak kendaraan itu, berarti Anda sudah mendapatkan bentuk kebodohan. Dan itulah Anda. Pelajaran moral terpenting: Jika Anda tidak mengerti seni berlari, pandai-pandailah membaca tanda lampu traffic di perempatan.

***

Pagi buta Ramdhan berjalan pulang. Biasanya ia pulang jam 6 pagi. Wajah kecilnya terlihat menahan kantuk. Tapi kaki kecilnya melangkah tanpa mau berhenti. Sesekali ia bersiul. Sesampai di rumah, matanya melihat sosok yang amat dipujanya. Bibir kecilnya bergerak memangil, “Aaamaaakkk,” pekiknya.

Si wanita menoleh. Lalu memanggil Ramdhan. Ramdhan mendekat. Mencium tangan Amaknya.

“Amak kemana semalam?” lirihnya polos.

“Kenapa Amak diam?”

“Amaaakk..”

“Kenapa?”

“Ah, sudahlah. Masuk sana! Sudahh…”

Ramdhan mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah. Ke kamarnya. Mengambil seragam sekolah pagi itu. setelah siap dengan seragam, ia mencari amaknya di dapur. Amaknya memberikan cangkit berisi minuman. Dan menyuruhnya makan pagi.

Bocah itu makan lahap. Amaknya sesekali bertanya soal keributan kemarin sore. Juga siapa yang membersihkan pecahan piring serta tumpahan masakan. Ramdhan mengangguk. Tapi ketika ditanya soal Angkunya, ia menggeleng. Dan mengatakan bahwa ia juga mencarinya. Karena, ia terbangun setelah keributan usai. Lalu amaknya dan Angku menghilang. Jadi, malam itu dirinya seorang diri. Naluri bocahnya muncul, ia menunjukan luka di tangan yang masih terbalut sobekan kaosnya.

“Kita itu orang Minang. Jangan berpangku tangan. Budaya dan adat kita mengajarkan keluhuran budi pekerti. Harus mencari kebutuhan sendiri. Tidak boleh merepotkan orang lain..” amak berhenti bicara. Tatapannya hinggap kepada Ramdhan yang sedang asyik makan.

Wanita berumur 35 an tahun itu mencium kening Ramdhan.

“Kalau ayahmu masih ada, kita tidak akan pulang kesini. Tapi…”

“Ayah sudah meninggal, gitu?”

“Iya, nak. Amak harus mencari uang. Amak mau merantau, kalau Amak dapat uang, amak bisa biayai sekolahmu. Ramdhan ngga papa?”

Ramdhan menjeda mengunyah. Matanya lekat menatap sang ibu.

“Merantau, kemana?”

Sang ibu menarik nafas dalam. Kemudian mengeluarkan dengan kasar. Berat sekali.

“Ke Kalimantan. Ikut sama anaknya Mintuo Ramli jualan di warung makan.”

Ramdhan mengedip-kedipkan mata cepat. Di mulutnya masih penuh dengan makanan. Wajahnya merona. Seakan ingin protes, namun belum mengerti bagaimana caranya. Hanya tatapan memelas yang di lontarkannya. Mungkin ia berharap Amaknya menjelaskan dengan bahasa anak-anak, namun gagal.

“Apa setiap orang harus merantau amak? Bukankah Uda juga merantau ikut Angku di Palembang?”tatapannya kosong.

“Jika kau ingin sukses dalam hidupmu merantaulah. Karena di rantaulah jati dirimu sebenarnya berada. Sayang dengan kampung di tinggalkan. Sayang dengan anak dimarahi. Ingat Ramdhan!!”

“Apa artinya, Mak? Ramdhan ngga ngerti.”

“Nanti Ramdhan akan tahu maksud Amak. Sekarang habiskan makanmu dulu, sayang,” tuturnya sambil memeluk Ramdhan lalu menciuminya. Mendapat serangan ciuman itu, Ramdhan tidak bisa mengelak. Makanya ia meronta, meminta agar amaknya melepaskan. “Ngga bisa makan Amak.”

Percakapan ibu dan anak terus berlangsung. Usai makan, Ramdhan mencuci piring. Lalu membantu ibunya di dapur sebelum berangkat sekolah. Jarak ke sekolah tidak begitu jaug, sekitar 300 an meter. Biasanya ia berangkat bareng dengan teman sebayanya di desa itu. atau ia akan menghampiri temannya. Seperti anak kepala Desa Ujung Ladang. Atau anak tetangganya yang berjualan Keripik Sanjay.

Pagi itu, ibunya berjanji akan mengantar ke sekolah. Makanya, Ramdhan tidak bergegas keluar. Karena jika bareng dengan teman-temannya, ia harus berangkat jam 6 lebih 15 menit. Mereka  berjalan kaki menuju sekolahan. Dan akan pulang selepas dhuhur. Biasanya setelah pulang sekolah Ramdhan akan bermain-main dengan anak sebayanya. Sekitar jam 3 lebih 10 menit barulah ia berangkat ke Surau Tuanku Abdul Karim untuk menimba ilmu.

Keduanya sudah bersiap. Dan Ramdhan juga sudah siap. Ibunya menunggu di luar rumah. Namun, datang seorang lelaki tua. Wajahnya mengeras. Matanya mentapa tajam seakan ingin menguliti setiap orang yang di temuinya. Lelaki tua itu bahkan melemparkan cangkul yang di bawanya. Untung tidak mengenai ibunya Ramdhan. Lalu lelaki tua itu memekik.

“Dewiii, Wak kau ngga bisa di ajak bicara baik-baik? anakmu lebih butuh kamu sini…” pekiknya tinggi., Ramdhan keluar mendengar keributan itu.

“Angkuuuuu,” pekik Ramdhan. Apalagi ketika melihat ibunya tersungkur di tanah. Sang lelaki tua yang di panggil kakek terus memaki.

Wak kau [10]ngga bisa menghargai orang tua miskin ini, iya? Setaannn. Apa karena terbiasa hidup mewah dengan suamimu yang sudah mati itu?”

Lelaki itu meneruskan, kali ini tepat di depan ibu Ramdhan. “Tidak ada wanita Minang mencari duit keluar. Lihat sekelilingmu, Wiii..”

“Tapi kalau mereka duitnya cukup. Sedangkan aku, siapa yang akan membiayai hidupku dan anakku?” sengit ibu Ramdhan. Keduanya bertengkar hebat. Ramdhan hanya bisa menumpahkan air matanya. Bocah itu memandang bingung.

“Wak kau menghina ayahmu ini? Wak Kau malu punya ayah melarat? Tidak ada di kamus budaha Minang wanita merantau. Yang ada lelaki merantau..”

“Kalau wanitanya kaya dapat warisan. Kalau wanitanya melarat seprti aku, mesti pakai otak ini..” lalu ibu Ramdhan masuk ke dalam rumah. Ayahnya mengejar.

“Woee… woeee…”

Ramdhan hanya menatap bingung. Lalu, menepi ke dinding rumah. Ia menggelosor ke tanah. Sambil mengusapkan tangan ke matanya. Dari sudut matanya merembes cairan bening. Sedikit, namun terus keluar. Sampai membuat basha pipi Ramdhan. Telinganya menangkap pertengkaran ibunya dan kakeknya.

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi, cukup lulus SD ajari Ramdhan mencari duit. Karajo di tempat Angku Palo..”

Sahutannya terdengar lebih keras.

“Awak ngga sudi punya anak kuli. Awak sengsara yang penting anak bahagia kelak…” lalu terdengar tangisan pecah. Dan terus membesar. Suara bentakan dan makian antara ayah dan anak tidak kunjung hilang.

Omongan itu segera disambut dengan bentakan seperti Guntur di langit.

“Anjinggg Wak Kau[11]. Anak durhaka.” Dan setelahnya sang ayah menendang, memukul. Melempar apapun di dekatnya bagai banteng kebanyakan makan jengkol.  Mengamuk tidak karuan.

Suara amukan semakin menjadi.

Beberapa tetangga keluar. Mereka memastikan pertengkaran itu. Ketika melihat Ramdhan menangis di pojokan, mereka semakin resah. Mulanya hanya satu orang wanita tua yang biasa di panggil Ramdhan Mak Etek. Beliau mencoba melerai pertengkaran sambil membawa Ramdhan masuk, tapi gagal. Keduanya bertempur sengit.

Ketika ada yang melerai, ibu Ramdhan mencari pembela.

“Bukankah aku harus bertanggung jawab pada anakku. Apa salah kalau aku ingin dia sekolah tinggi?” adu ibu Ramdhan pada wanita itu. Lalu tumpahlah air dari sudut matanya.

Saling adu argumentasi terjadi.

“Anak sialan Wak Kau ini. Anjiiingggg..” pekiklelaki itu. kemudian melempar Ibu Ramdhan dengan asbak. Karena tidak sempat mengelak, kepalanya jadi sasaran empuk. Seketika itu darah menguycur dari lukanya. Ibu Ramdan berteriak histeris. Tetangga melerai. Apa daya hanya seorang wanita.

“Pak Zen, sudahlah. Dewi anakmu. Sadar, insyafff…” tidak di hiraukan oleh pak Tua Zen. Malah menyingkirkan si wanita tua dengan mudah.

“Berani kau bela anak sialan itu, mati kau?” ancamnya. Si tertangga pun takut. Ia berlari keluar. Di susul ibu Ramdan. Ia berlari sambil bercucuran air dari sudut matanya. Tangisnya memecah pagi. Histeris.

“Mingggaattttt anak sialaaannn….”

Keributan pagi itu benar-benar membuat suasana jadi kacau. Tertangga semakin banyak berdatangan. Sedikitpun Pak Zen tidak mau berhenti mengamuk. Ia memaki, menantang tetangga yang melerai. Ramdhan di sembunyikan oleh tetangga dua rumah darinya. Ramdhan terus menangis. Sedangkan Dewi ibunya, tidak tahu lari kemana.

Sampai menjelang jam 9 Pak Zen masih saja mengamuk. Tetangga berdatangan untuk menonton. Saat merasa lelah, Pak Zen berhenti. Akan tetapi mulutnya terus meracau tidak karuan. Memaki anaknya dan cucunya. Merasa diri tidak dihargai, itulah yang keluar dari makiannya.

Sekitar jam 9 lebih 5 menit, Angku Palo desa Ujung Ladang datang. Ia bersama beberapa tetua kampung. Kedatangannya membuat Pak Zen sedikit dingin. Karena angku palo atau kepala desa adalah orang yang disegani, sekaligus juragannya, Pak Zen pun diam saat beliau berbicara.

“Apa yang Pak Zen lakukan salah. Tidak seharusnya menghalangi niat baik anak. Apalagi Si Dewi memang ibu dari Ramdhan. Dia harus bertanggung jawab..”

“Tapi budaya kita..”

“Jangan di potong omongan saya, Pak Zen.” Kilah Angku Palo dengan wajah mengerut. Pak Zen hanya diam. Ia menunduk di depan orang yang mengupahnya. Dan tumpuan hidupnya. Zulkifli nama kepala Desa itu, ia berwajah bulat. Badannya tegap tingginya sekitar 176 centi meter. Badannya tidak gempal tapi tidak juga kurus. Posturnya mengingatkan kepada veteran perang Vietnam.

Katanya, ia semasa muda pernah mendaftar tentara namun gagal. Makanya, ia meneruskan sekolah. Karena berasal dari keluarga kaya raya, ia pun dengan mudah mendapatkan derajat di masyarakat. Tanahnya luas. Ternaknya banyak. Hartanya melimpah dari Ujung Ladang sampai Singkarak. Bahkan ia memiliki saham pengelolaan danau Singkarak.

Siapa yang tidak kenal kepala desa satu itu, tanpa pemilihan ia sudah otomatis di pilih warga. Bukan tanpa alasan, sejak dulu keluarganya orang yang dermawan. Rendah hati dan agamis. Konon, ia masih satu Inyik [12]dengan Buya Hamka dari pihak ibu, sedangkan dari pihak ayah masih cicit dari H. Agus Salim. Di tubuhnya mengalir darah pembesar negeri ini. Pantas jika ia menjadi kepala desa idola rakyat.

Setiap perkataannya di dengar oleh warga. Seperti pagi itu, Pak Zen diam tidak berkutik. Warga sekitar ramai menonton. Kadang Kepala desa itu bicara lembut, kadang keras, kadang tegas kepada Pak Zen. Ia mengatakan ketidak sukaanya kepada keinginan Pak Zen.

“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kemanapun ia ingin, dukung. Jangan di paksa untuk bekerja. Ramdhan masih kecil. Harapannya masih panjang, jika Pak Zen memaksa dia untuk bekerja lagi..”

“Saya tidak memak…”

“Diaammm. Jangan potong omongan saya!” bentaknya geram.

“Pak Zen ini memang harus disekolahkan lagi agar tahu sopan-santun, “

Pak Zen diam tanpa kata. Matanya menetes air.

“Ngerti?!”

“Ngerti,” sahut Pak Zen.

“Negara Indonesia menjamin pendidikan anak. Kalau Pak Zen melarang Ramdhan sekolah, berarti melawan Negara, ngerti?!”

Kedatangan Kepala Desa membuat atmosfer berubah. Tadi, Pak Zen yang berkuasa. Kini ia bagai lalat di injak gajah. Mati mengenaskan tanpa bisa melawan sedikitpun.

“Mana Ramdhan sekarang?” tanayanya pada Pak Zen.

“Anuu….”

“Manaaaa?”

Tiba-tiba seseorang menyahut.

“Di tempat Haji Agus, Angku Palo.” Suara itu berasal dari sebelah kananya. Kepala desa menoleh.

“Benar?”

“Iya, benar. Tadi Umi ambo yang mengantar.” Tiba-tiba ada suara lagi dari belakang si lelaki itu.

“Di Surau, Angku Palo. Suraunya Tuanku Abdul Karim.”

Kepala desa mengangguk mantap. Ia memerintahkan kepada dua pembantunya untuk menjemput Ramdhan. Dan ia kembali menanyai Pak Zen. Kini ia menanyai kepergian Dewi anak Pak Zen. Lagi-lagi Pak Zen hanya menggeleng.

Datang lagi suara sumbang, “Angku Palooo, sudah semingguan ini Pak Zen terus mengamuk..” suara itu cukup keras terdengar. Beberapa orang lain juga menyahut dengan ungkapan sama. Mereka berharap Kepala desa bisa memberikan keadilan untuk Dewi.

Kali itu, Pak Zen harus menahan diri mendengar sabda-sabda Kepala Desa yang dikenal merakyat. Mau tidak mau, ia harus menundukkan kepala. Padahal di luar rumahnya dipenuhi warga yang juga ikut geram. Di pintunya sudah berjubel anak mudah menonton. Beberapa kali suara interupsi datang. Semuanya berharap Pak Zen sadar.

“Jadi, ambo tidak akan campuri urusan Pak Zen kalau tidak penting. Soal begini bukan hanya urusan Pak Zen. Tapi urusan ambo selaku kepada desa yang harus bisa memberikan kenyamanan pada warganya, faham Pak Zen?”

Balasan hanya anggukan kecil. Persis anak kecil yang dimarahi ibunya. Dari segi usia Pak Zen memang di atas kepala Desa itu. Bahkan seumuran dengan ayah dari kepala Desa.

“Anak-anak itu tiangnya negeri. Mereka harapan negeri. Sekolah saja memang tidak cukup. Mencari ilmu itu wajib, sekolah tidak. Tapi jika ingin mencari ilmu harusnya kesekolah. Coba ambok tanya, kalau Ramdhan ngga boleh sekolah, lalu di suruh kerja di tempat ambo. Kalau ambo ngga mengijinkan gimana? Hayoo? Bisa menjamin kehidupan Ramdhan?”

Anggukan lagi di dapat Kepala Desa.

“Jangan Cuma angguk geleng, angguk geleng, Pak? Masak sama cucu sendiri mau tega begitu?”

Suara isak tangis terdengar.

“Pak Zen ini bapak ambo. Tapi apa ambo akan diam melihat bapak salah? Ngga mungkin…”

“Maaaff..” lirih Pak Zen.

“Iya, apa?”

“Boleh saya bicara Angku Palo?”

“Boleh, silahkan.”

Untuk beberapa detik Pak Zen diam. Hanya suara tangis lirih terdengar. Dan gerakan tangannya mengusap mata karena penuh air dari sudutnya.

“Angkat kepalanya!”

“Saya hanya mikir, darimana dapat biaya sekolah Ramdhan. Untuk makan saja sulit…”

“Makanya Dewi mau merantu tuk biaya si  Ramdhan. Ngerti?”

“Tapi…” bentak kepala desa geram.

“Apa?”

“Maksudnya, kalau sekolah sampai sarjana biayanya kan mahal. Semua keluarga kami ngga ada yang sekolah tinggi. Paling tinggi Dewi, itupun Cuma SMA. Saya piker, daripada bertahun-tahun mesti cari duit untuk biaya, mending kerja saja.”

Kepala desa memotong pembicaraan, “Si Ramdhan punya cita-cita tinggi. Dia pengen jadi Pakiah agar bisa menjaga negeri. Apa ini bukan cita-cita mulia?”

“Tapi..”

“Ngga usah tapi-tapi. Mulai sekarang, jangan buat keributan lagi di daerah ini apalagi ngancam bunuh orang. Sekali lagi ngancam bunuh orang ambo laporkan ke polisi.”

“Jaangg..”

“Ini peraturan di daerah ini. Saya selaku kepala daerah ngga bisa toleran sama penganggu ketenangan. Ngerti?!”

Hari itu keributan usai. Pak Zen pun menangkan diri. Tetangga ada yang simpati, ada benci. Yang simpati mengunjungi, menasehati. Lalu menyuruh sabar. Hari itu Ramdhan tidak berangkat sekolah. Sejak pagi hingga malam ia berdiam di rumah Tuanku Abdul Karim, guru mengajinya. Barulah esok harinya ia diantar Tuanku Abdul Karim ke rumah.

Sedangkan Dewi, ibu Ramdhan entah kemana. Di depan Tuanku Abdul Karim, Pak Zen lebih tidak berkutik. Hanya diam dan bersikap semanis mungkin. O, ya, kalian tahu maksud panggilan Tuanku? Itu adalah panggilan untuk pakar bahkan ahlinya agama di tanah Minang. Jadi seorang mubaligh begitu. Bukan hanya ustadz biasa. Seperti Tuanku Imam Bonjol pahlawan nasional itu. dan masih banyak lagi pokoknya. Tanah Minang memiliki banyak ahli agama. Selain itu, juga banyak lahir tokoh nasional dari tanah Minang ini. Coba hitung! Mulai dari Moh. Hatta, H. Agus Salim, Buya Hamka dan banyak lagi. []

***

[1] Alat untuk memisahkan beras dan kotoran.

[2] Cangkul

[3] Kepala desa dalam bahasa Minang

[4] Kakek dalam bahasa Minang

[5] Ibu dalam bahasa Minang

[6] Nenek dalam bahasa Minang

[7] Mau kemana, Ramdhan?

[8] Kepala desa dalam bahasa Minang

[9] Semacam pendekar. Memiliki ilmu kanuragan, ilmu agama, pengetahuan luas. Disegani karena mereka menjaga negeri dan membela yang lemah. dalah gelar pusako yang diberikan kepada orang yang memiliki pengetahuan dan ilmu agama

[10] Kamu dalam bahasa Minang. Namun kurang di sukai karena kontoasinya kasar. Sama dengan Loe.

[11] Sama dengan Loe, kasar. Panggilan untuk wanita. Kalau lelaki Wak Ang.

[12] Buyut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *