Gambar Adat Basandi Sara’, Sara’ Basandi Kitabullah

Novel Merah Putih Bab III: Adat Basandi Sara’ Sara’ Basandi Kitabullah

Posted on

Ramdhan mematung di sebelah Surau Tuanku Abdul Karim. Matanya menatap ke sekililingnya. Tangan kanan menggengam sebilah sabit. Tangan kirinya menenteng tas berisi benda bulat. Terlihat seperti pot bunga. Ia maju beberapa langkah. Kemudian mundur lagi seteleh memastikan semuanya aman. Dibukanya tas butut itu, ternyata sebuah celengan Babi. Sabit di ayunkan ke celengan Babi. Sekali pukul terbelah jadi dua, karena celengan terbuat dari tanah. Lembaran uang recehan dan koin ambyar dari dalamnya.

Dengan tangan kecilnya, Ramdhan mengumpulkan recehan yang berserakan. Di hitungnya pelan. Cermat sekali. 10 menit kemudian semuanya beres. Namun, ia mengembuskan nafas kasar. Lalu terduduk lemas. Wajahnya lesu. Uang di lempar begitu saja ke pecahan celengan tadi. Tangan kananya meremas rambut. Seperti melempar sesuatu ke udara.

Sudah 3 bulan ini ia berusaha mengumpulkan duit untuk beli sepatu. Bahkan ia sudah berusaha untuk tidak beli jajan di sekolahan. Tapi tetap saja, duit yang terkumpul belum cukup. Entah dengan apa ia masuk sekolah esok lusa. Karena sepatunya sudah rusak. Sudah seperti mulut buaya lapar. Mulanya ia mengakali dengan mengikat. Kini tidak mungkin bisa lagi, sebab depan dan belakang sudah rusak semuanya. Apalagi ibunya juga tidak tahu kemana. Sejak pertengkaran dengan Angkunya, sang ibu belum juga kembali. Sudah tiga hari.

Ibu kepala sekolahnya selalu mendesak agar ia memakai sepatu baru, minimal yang tidak rusak. Bukan hanya soal sepatu, kadang karena tidak bisa beli buku pelajaran, ibu kepala sekolah juga membentaknya. Hanya karena itu, ia sering di hukum membersihkan WC. Di suruh berdiri berjam-jam di luar.

Ramdhan mengembuskan nafas kembali. Lalu memungut uang yang tadi di lemparkan. Menghitung lagi dengan teliti. Kali ini dipisah antara kloin dan kertas. Dua menit berlalu, ia tersenyum pahit.

“Dari mana aku dapat uang itu, ya?” lirihnya pada diri sendiri.

Ramdhan menarik nafas panjang. Mengeluarkan dengan cepat. Terdiam sesaat, matanya berkedip cepat. Lalu memelan. Tangan kannya merogoh saku celana. Kosong. Tangan kiri merogoh saku celana. Kosong. Digerakkan kepalanya ke kanan-kekiri. Ia menggigit bibir bawahnya. Tangan kannya bergerak cepat merapikan celengan yang pecah. di masukan ke dalam tas. Di lemparkan ke parit yang ada di depannya.

Ia beralih menuju rumah Tuanku Abdul Karim. Sabit disembunyikan di bawah Surau. Tidak butuh waktu lama ia sampai di rumah sang Guru. Kemudian tangan kecilnya mengetuk pintu. Ia mengulang ketukan di sertai ucapan salam. Semenit kemudian tetap tidak ada suara. Ia ulangi sekali lagi. Di tunggunya respon dari pemilik rumah. Tetap diam meski sudah 2 menit menunggu. Ia nyengir, bibirnya berkomat-kamit tanpa suara.

Bocah itu, berjalan menjauh dari rumah Tuanku Abdul Karim. Menyusurui jalanan sempit menuju jalanan besar. Di jalan, ia sempat bertemu beberapa anak sebayanya. Meski di ajak bermain, namun Ramdhan menolak. Ia terus berjalan kea rah barat. Sekitar 20 meter kemudian belok ke kiri. Dan lurus kearah timur melewati jalanan besar desa. Lalu-lalang kendaraan roda dua dan empat sempat mengusiknya. Ia menoleh lalu memandang jalanan itu.

Tatapannya tertuju pada beberapa pemuda yang menenteng tas hitam. bajunya bersih berwarna putih. Memakai celana hitam. bocah berwajah bulat itu tersenyum melihatnya. Langit siang itu cerah. Jalanan itu pun ramai. Di beberapa tempat ada orang berjualan. Keripik Sanjay sebagai oleh-oleh khas. Dan juga rumah makan.

Ramdhan terus menatap pemuda berpakain necis tadi. Tampang  mereka flamboyant. Mereka sedang berdiri di delat mobil berwarna biru. Mobil berbadan gendut dengan muka bulat. Tiba-tiba dari dalamnya muncul suara teriakan. Dan dalam beberapa pemuda tadi masuk ke dalam mobil lagi.

Ramdhan mengernyitkan dahi. Meneruskan berjalan. Di depan rumah makan, ia sempat berhenti. Menyapa lelaki tua yang sedang duduk di depan. Tapi tidak lama, hanya beberapa detik. Ramdhan terus berjalan. Terus berjalan lurus kearah timur. Tanpa memedulikan rasa capek, Ramdhan melangkah. Saat melihat bus berhenti ia belari kecil sambil memanggil-manggil.

Hanya dengan 20 an langkah ia sudah sampai di depan laki-laki berjaket kumat. Wajahnya berpeluh dan kulitnya hitam legam,

“Ke Danau Singkarak ongkosnya berapa?” tanya Ramdhan dengan nafas tersengal. Tiba-tiba sang lelaki itu menujuk kearah belakangnya. Ramdhan tersenyum. Lalu meminta maaf. Ia menghampiri lelaki tua berperut buncit yang sedang duduk sambil menimati minumannya.

“Kalau mau pergi ke danau Singkarak ongkosnya berapa?”

Tidak segera di jawab. Sang lelaki tua malahan sibuk menikmati minumnya. Ketika sudah puas minum, ia justru mengambil uang dari tas pinggangnya. Membereskan uang yang lusuh itu. Ramdhan mengulang pertanyaannya,

“Pak Etek….”

“Mau apa ke sana Yuang[1]? Jauh.”

“Mau…” Ramdhan ragu.

“Ongkosnya….” Si lelaki buncit menyebutkan sebuah nominal. Mendengarnya, Ramdhan terdiam. Lalu memandang ke arah  langit. Dan mulutnya bergerak keatas dan kebawah.

“Mana amakmu, yuang?” tanya si bapak tua lembut. Ramdhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu,

“Ambo pulang dulu.” Ia berjalan ke arah kedatangannya. Si bapak sempat mendumel kecil. Dan berpesan agar Ramdhan pulang kerumah.  Ramdhan menyebrang jalan. Di sana, ia berhenti di depan toko. Lalu mengajak mengobrol penunggunya. Dari satu toko ke toko lainnya tetep sama, tidak ada yang membuatnya bertahan. Hanya 5 sampai 10 detik saja.

Bocah itu terus berjalan lurus. Menyusuri jalanan besar hingga ke sebuah pertigaan. Seorang diri berjalan. Jika melihat toko ia berhenti sejenak. Mengajak bicara orang di dalam toko. Ia lakukan itu terus menerus. Namun lagi-lagi hanya 10 an detik lalu berjalan lagi.

Sekitar 3 jam lebih ia berjalan. Saat mendengar suara adzan ia berhenti. Mencari  masjid atau Surau agar ia bisa sembahyang. Setelah mencari-cari ia bertemu dengan  masjid di dekat pertigaan Kota Solok. Tanpa segan ia masuk ke dalam masjid. Mencari sarung sebelum mengambil air wudhu. Berputar-putar mencari sarung tapi tidak juga ketemu.

Sampai iqomat dikumandangkan, ia tidak mendapatkan sarung. Ia pun duduk di beranda masjid.  Tatapannya tertuju pada mereka yang sedang menghadap ke Makkah dengan khusyuk. Ramdhan terus menikmati pemandangan yang ada. Punggungnya menempel ke dinding. Dingin terasa, ia nikmati sajian itu dengan penuh penghayatan. Sampai ia merasakan matanya berat untuk di buka. Ia merasakan semuanya gelap. Nyaman sekali.

Saat sedang asyik menikatinya, Ramdhan merasakan kakinya di senggol-senggol. Awalnya ia tidak merespon. Tapi lama-kelamaan semakin keras. Susah payah ia membuka kesadarannya.

“Bangun-bangun..”

Ramdhan membuka matanya dengan berat. Matanya menangkap wanita tua berumur 70 an tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya lonjong. Matanya menjorok kedalam. Meski begitu ia berkulit putih bersih. Dan kulitnya sudah mengendur seperti karet.

Ramdhan menatap bingung.

“Kenapa tidur di sini, buyung?” tanya si nenek. Wajah nenek mengerut. Ramdhan bangun.

“Anu, Nek. Ehh..” bocah itu mengusap kedua matanya. Seperti hendak menyingkirkan sesuatu. Lalu berdiri dan meraih tangan si nenek.

“Sudah sembahyang, Buyung?”

Ramdhan menggeleng.

“Ikut Nenek,” pinta sang wanita itu. Ramdhan bingung. Tapi ia hanya bisa nurut karena tangannya di pegang. Turun dari masjid, ternyata rumah sang nenek ada di sebelahnya. Ramdhan di ajak masuk. Ia duduk di kursi sofa. Nenek masuk. Keluar lagi dengan sarung warna biru. Sarung itu tidak besar. Cocok untuk Ramdhan.

“Sembahyang sana!” katanya singkat sambil mendorong Ramdhan.

“Tapi, Nek..”

“Setelahnya kemarin lagi.”

“Ini punya…”

“Sana!”

Dan lagi-lagi Ramdhan tidak berkutik, ia menuju masjid. Membasuh anggota tubuhnya. Kemudian memakai sarung dengan cara di lilitkan di perut. Selanjutnya mengambil posisi berdiri menghadap Ka’bah di Makkah. Takhdim sekali. Sesekali ia mengambil posisi menempelkan tangan di lutut. Posisinya 75 derajat. Kemudian naik lagi. Lalu turun mencium sajadah dengan sangat khidmat. Ia menghatami dengan menoleh ke kanan dan ke kiri di iringi doa.

Selanjutnya ia menegadahkan kedua tangan. Bibirnya berkomat-kamit tanpa suara. Meski orang ramai berjalan di sampingnya, tetap saja ia bergeming. Terus dan terus merangkai kata-kata untuk di haturkan kepada sang pencipta alam semesta. Sejak kecil ia di ajarkan untuk belajar agama oleh ayahnya. Di tambah amaknya yang getol menyuruhnya sekolah setinggi mungkin.

Makanya, amaknya merestui Ramdhan tiap malam ke Surau Tuanku Abdul Karim. Karena ingin menbentengi anaknya dari jerat-jerat iblis. Lemahnya sifat manusia menyadarkan Dewi, ibunda Ramdhan sejak dini mengenalkan sifat jahat iblis pada anaknya.

Ramdhan melipat sarung pinjaman itu. ia mengembalikan ke nenek yang meminjamknnya tadi. Di dalam rumah itu, ia di suruh makan. Sambil si nenek menanyai asal-usulnya. Ramdhan menjawab dari Desa Ujung Ladang. Komplit dengan RT dan RW nya. Si nenek bercerita memiliki cucu seusianya. Ia tinggal di Malasyia bersama orang tuanya. Sedangkan dirinya hanya tinggal bersama anak bungsunya. Si anak bekerja di Kantor Telkom kota Solok.

Putra bungsunya belum menikah. Nenek bercerita kebingungannya karena keengganan putranya menikah. Ia mengajak Ramdhan berdiskusi soal itu. Meski nalar Ramdhan belum bisa menjangkaunya. Tapi jawaban singkat dan polos Ramdhan membuat nenek tersenyum.

“Makanlah lagi. Nenek masih punya banyak daging kambingnya. Enak ngga?”

Ramdhan tersenyum.

“Enak, sekali.”

“Padahal, anak nenek itu sering berjalan dengan cewek. Yah, semoga dia tidak naksir sama kambing saja..”

Mendengarnya Ramdhan terkikik.

“Bukannya Om manusia? Mana mungkin kawin sama kambing hehe..”

“Bener juga kamu, ya! Tapi, kadang manusia malah bisa jadi kambing, kamu tahu kapan?”

Ramdhan memandang dengan kening berkerut. Lalu menggeleng ringan sambil mengunyah makanannya.

“Ketika manusia tidak ingat kalau di punya otak.”

“Kenapa bisa, Nek?”

“Karena kalau manusia sudah lupa dengan otaknya. Dia akan terbiasa dengan nafsunya. Makanya Cuma emosi yang di andalkan. Ah sudahlah, besok Ramdhan akan tahu maksudnya..”

“Tapi di Surau Tuanku Abdul Karim juga sering belajar agama, Nek!”

“Ah, benarkah itu?” tanyanya sembari bangkit dari duduknya. Ramdhan mengiyakan. Rupanya nenek mengambil air bening. Ia membawakan untuk Ramdhan.

“Minum! Air ini baik untuk tubuhmu!”

Ramdhan meraihnya. Meminumnya dengan tiga kali teguk. Nenek memuji Ramdhan. Ia hanya nyengir. Rambutnya yang kering dan kasar di usap dengan tangan kiri.

Nenek kembali duduk di depan Ramdhan.

“Anaknya nenek, ya! Kalau gajian selalu kasih nenek duit banyak. Apapun yang nenek mau di belikan. Itulah dia. Apa karena dia ngga mau pisah sama nenek, ya, makanya ngga nikah? Setelah orang tua ini mati mungkin dia mau nikah, ya?”

Ramdhan memotong.

“Mungkin Om mau menggenapkan baktinya, Nek…”

“Apa maksudnya?”

“Kata Tuanku Abdul Karim, seorang anak yang tinggal bersama orang tuanya wajib menggenapkan baktinya. Bahkan jika ia ingin berperang untuk agama namun ibunya tidak mengijinkan ia harus taat…” penjelasannya datar dan polos. Tapi cukup membuat nenek kagum. Di umurnya yang masih kecil. Saat anak seusianya sibuk bermain dan meminta uang, dia sudah begitu.

Jam 2 siang Ramdhan pulang. Nenek megantarkan sampai halte. Padahal Ramdhan ingin berjalan kaki saja. Meneruskan usahanya mencari kerja di toko yang ia temui. Nenek memberinya uang. Ramdhan menolak, meski begitu nenek memaksa. Bahkan mengatakan kepada sopir untuk mengantar Ramdhan sampai tujuan.

Menjelang pukul 6 petang, Ramdhan sampai di rumahnya. Terkejut sekaligus bahagia. Di depan rumahnya duduk wanita pujaan hatinya. Ia yang melindunginya. Wanita itu juga yang mengandung selama 9 bulan 10 hari. Ramdhan memekik ketika melihatnya. Ia berlari sekuat tenaga.

“Amaaaaaaaaaaaaaaaaakkk.”

Maknya membalas pekikan itu. seperti baru berpisah ribuan tahun. Keduanya saling berpelukan, saling mengkhawatirkan. Saling cemas. Wajahnya berbinar. Ceria dan selalu tersenyum, sesekali tertawa. Ramdhan menanyakan kepergian Maknya. Amaknya diam malahan menanyakan ramdhan dari mana.

“Sudah makan, Nak?”

“Sudah, Mak.”

“Sudah sembahyang?”

“Kan belum magrhib.”

“Malam ini ngga usah ke Surau dulu, ya! Tidur sama amak.”

Ramdhan menatap amaknya tajam. Kemudian,

“Bagaimana dengan Angku? Apa ngga marah sama amak lagi?”

“Ramdhan tenang saja. Semuanya sudah aamak bereskan!” lirihnya sambil mencubit pipi Ramdhan.

Ramdhan membalas dengan senyuman. Keduanya berjalan masuk. Ramdhan mengamit tangan amaknya erat. Sesekali ia merengek manja. Amaknya tertawa. Ramdhan terkikik. Amaknya mengajak Ramdhan ke dapur. Di sana ia menyiapkan makanan untuk Ramdhan. Seperti biasa, Gulai daging cincang sama Rendang.

“Ini makanan kesukaan Ramdhan,” katanyas ambil menyajikan piring berisi nasi di atas meja kecil. Lalu mengambil dua mangkok berisi rendang sama Gulai.

“Mak..”

“Ya, sebentar.”

Dewi sang ibu mengambil piring. Lalu mengisi nasi dan duduk di depan Ramdhan. Ia mengisi piring ramdhan dengan daging rendang, dan gulai. Lalu mengisi piringnya sendiri dengan gulai. Dan keduanya makan dengan lahap. Ramdhan menyuapi ibunya. Sang ibu membalasnya dengan suapan. Saat Ramdhan tersedak, ibunya cepat, menyambar gelas dan mengisi dengan air bening. Ia memaksa Ramdhan minum.

“Pelan-pelan tapi pasti. Jangan terburu-buru.”

“Apa maksudnya, Mak?”

“Minum dulu..”

Bocah itu menuruti perintah sang ibu, meneguk habis air bening yang di berikan ibunya. Lalu melanjutkan makan. Sang ibu melihat anaknya begitu lahap makan. Tiba-tiba, ia merasakan matanya menghangat. Kemudian menteslah air bening dari sudutnya. Menetes pelan dan mengenai pipi.

“Mak nangis?” tanya Ramdhan polos.

Dewi menyeka air matanya. Lalu diam dan melanjutkan makan. Ramdhan terus mencecar pertanyaan, Dewi memilih diam mengarahkan anaknya untuk makan lebih banyak. Setelah makan, keduanya sembahyang bersama. Lalu membaca ayat-ayat suci di dalam kitab al-Qur’an.  Sekitar jam 8 malam, Pak Zen pulang.

Seperti biasa, ia pulang larut malam, pergi pagi. Apalagi jika sedang musim tanam padi. Karena kerjanya hanya mengurus sawah. Sesampai di rumah, Pak Zen menyapa anak dan cucunya. Lalu mandi dan makan. Dewi yang menyiapkan makanan. Ramdhan yang membuatkan teh panas.

Keduanya menemani orang tua itu makan. Sambil bercerita. Dewi mencairkan suasana dengan meminta maaf pada ayahnya. Sang ayah hnya mengangguk pelan. Meski begitu, Dewi melihat ayahnya tidak marah. Lalu sekejap mereka diam. Dan sang ayah menceritakan kenangan bersama ibu. Dewi merasa sesak mendengarnya.

“Ayah, Amak sudah lama pergi. Ayah kangen?”

Wajah keriput Pak Zen berubah. Matanya merah. Ia menghentikan makan. Lalu mengusap air matanya.

“Kalau nanti kamu pergi…”

Dewi memotong perkataan ayahnya.

“Bagaimana kalau Dewi cari kerja di sini saja…” Pak Zen memotong.

“Jangan,” tak ada kata sambungan. Hanya kalimat itu. lalu melanjutkan makan. Ramdhan menatap kedua orang itu. matanya berkedip-kedip. Merayu kakek untuk menambah makanannya.

“Amak-amak, apa maksud amak ngomong pelan tapi pasti tadi?” sergah Ramdhan tiba-tiba. Dewi mengalihkan pandangan kepada anaknya. Mata Ramdhan berkedip. Lalu bibirnya nyengir. Senyuman khasnya muncul.

“Kalau Ramdhan ngelakuin apapun, jangan tergesa-gesa..”

“Maksudnya, Mak? Kata Tuanku Abdul Karim malahan harus cepet kalau itu kebaikan.”

Dewi tertawa. Ramdhan malahan bingung.

“Wiii..”

“Iya, ayah.”

“Kalau ngga merantau, terus kerja apa di sini?” apa…”

“Kenapa ayah berubah lagi? Tadi kan sudah..”

“Iya, ayah faham. Ayah miskin. Melarat, kamu takut ayah ngga bisa biayain Ramdhan sekolah? Terus siapa yang membesarkan kamu….”

“Sudahlah. Ribut terus. Pokoknya Dewi tetep mau merantau. Apalagi sudah di tunggu sama anak Mintuo Ramli..”

“Keras kepala. Bener ayah ini bodoh. Goblok, setidaknya hargai usaha ayah.” Mulai tinggi perkataannya. Mulutnya masih mengunyah makanan. Dewi tak mau kalah, ia membalas perkataan ayahnya itu.

“Apa salahku sebenarnya, ayah? Justru dengan ayah keras kepala begitu ayah semakin tidak menghargai diri sendiri.”

Pak Zen melotot. Dewi mengalihkan pandangan. Ramdhan hanya menatap bingung.

Adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah[2]. Wanita Minang merantau sangatlah jarang, apa kamu ngga mau menghormati adat kita? Apa kamu mau melanggarnya? Tinggal di kampung! Ibu menjadi pujaan anaknya. Menjaga, menemani anak lebih mulia…”

“Ah lagi-lagi ayah begitu. Ributt terusss…” ia bangkit dari duduk. Meninggalkan ruangan kecil berdinding kayu itu. lalu keluar menuju kamarnya.  Di dalam kamarnya Dewi masih mendengar ayahnya mendumel. Meski tidak seperti kemarin. Sudah dua kali ayahnya mengamuk tanpa ampun. Bahkan beberapa hari yang lalu masakan di banting semua. Dari rendang sampai Gulai kesukaan anaknya. Makanya, malam itu ia memilih menjauh daripada harus bertengkar lagi dengan ayahnya. Ia berdua di dalam kamar.

Amak, kenapa selalu bertengkar dengan angku?”

Pertanyaan itu tidak di jawab. Hanya pelukan hangat yang diberikan. Lalu mengajak Ramdhan tidur. Dewi mengalihkan perhatian ramdhan dengan menceritakan perkara lain. Ia ingin anaknya tidak terganggu dengan semua pertengkaran itu.

“ Besok kalau kita sudah punya banyak piti,[3] tengok Uda di Palembang, ya!” alihnya.

Ramdhan mengangguk. Lalu meminta di peluk oleh ibunya. Sambil minta di certain. Ramdhan menayakan kapan Amaknya akan pergi. Dewi menjawab dengan dada merasa sesak. Ia mencoba memberi pengertian kepada anaknya itu. meski Ramdhan belum bisa mengerti secara utuh.

“Jadi, Amak harus cari piti. Kalau perlu, agar Ramdhan bisa sekolah sampai ke Turki. Di sana, Ramdhan akan jumpai makam sahabat Nabi Abu Ayub Al-anshari. Dan akan tahu melihat Benua Eropa dari jarak dekat padahal Ramdhan masih di Asia…”

“Bener, Mak?”

“Iya. Jangan lupa ajak Udamu sekolah di sana, ya!”

“I..,iya, Mak. Amak juga Ramdhan ajak ke sana, ya!” terangnya datar.

“Di Turki ada apa lagi, Mak?” imbuh Ramdhan.

“Oo, banyak. Kalau mau lihat kota yang di sebut dalam hadits Nabi, ke Turki. Di sana ada kota yang di taklukan oleh kaum muslimin..”

“Siapa yang menaklukan, Mak?”

“Dia panglima perang, anak Sultan juga. Gagah dan santun, tidak pernah menyerah. Dialah pahlawan besar.  Dialah Sultan Al Fatih yang tersohor…”

“Oh, yang di certain sama Tuanku Abdul Karim, Mak. Faqih Ahmad juga pernah..”

“Masak?”

“Iya..”

Mereka berdua mengobrol sampai larut malam. Sampai keduanya tertidur. Lelap sekali. Malam menua, menyelimuti mereka dengan gulita.

***

Ramdhan mengucek matanya. Tangannya berusaha meraih Amaknya di sebelah. Tapi kosong. Ia bangkit. Masih mengucek matanya. Telinganya menangkap suara alarm dari jam. Bising sekali. Dengan nyawa yang belum penuhl, bocah itu berjalan keluar kamar. Lampu redup menerangi langkahnya. Keluar kamar, ia melihat Amaknya sedang berdiri menghadap ke Makkah mengenakan baju terusan panjang berwarna putih. Khusyuk sekali. Ramdhan meneruskan langkahnya menuju dapur.

Ia masuk ke WC kecil. Lalu membasuh kedua tangan sampai ke siku. Muka, dan anggota badna lainnya. Keluar lagi menuju kamarnya. Mengambil sarung. Dililitkan ke pinggangnya. Menyusul amaknya di luar. Ia berdiri di sebelah amaknya. Menirukannya sampai selesai. Sesekali ia harus menutupi mulut dengan tangan. Susah payah ia melakukannya, ia terus saja menguap.

Sepi menemani. Rumah yang letaknya di pinggir desa itu hanya berteman suara Jangkrik. Dan sesekali suara angin menderu. Pemandangan di belakang rumah itu menarik sekali. Sebab, area persawahan hijau membentang. Jika menjelang musim panen, sawah itu akan berubah warna jadi kuning. Apalagi, di dekats awah itu mengalir sungai Gadang.

Jika turun ke bawah, hanya jalanan menuju ke hutan. Di seberang sawah itulah letak Surau Tuanku Abdul Karim. Dari rumah Ramdhan juga terlihat. Jalan berkelok kanan kiri hutan. Meski begitu, Surau itu tetap ramai di kunjungi. Hanya saja yang menacri ilmu untuk bekal hidup sudah kurang. Tidak seperti dulu.

Surau itu berlantai dua. Biasanya, Ramdhan dan lainnya tinggal di lantai atas. Cobalah kalian cari di google, tentu akan mengerti maksudku. Ya, Surau seperti umumnya rumah gadang di Sumatra Barat. Tapi sekarang semuanya banyak berubah. Bisa kalian hitung. Rumah adat sudah hamper punah. Hanya di beberapa tempat. Bahasa sudah mulai bergeser. Adat orang Minang yang adi luhung itu punah oleh gerusan zaman.

Dulu tidak ada panggilan Om, tante. Tapi sekarang menjamur. Adat Minang yang memesona bersembuyi di balik upacara sakral saja. Apakah bahasa Minang yang memikat itu juga akan di tinggalkan? Ah, pemuda sekarang terlalu lupa dengan jati dirinya.

Ramdhan kecil justru sangat ingin mengerti adat kampung halaman ibunya. Makanya, ia belajar ke Surau. Dan pagi itu, ia juga sibuk menanyakan pada ibunya soal budaya merantau.

“Jadi, lelaki di Minang ini harus merantau, Mak?”

“Karena di sini lelaki ngga dapat warisan hehe…”

“Ah, Mak. Jangan bercanda.”

“Gini, Ramdhan. Manusia lahir di bumi. Sang pencipta menjadikan manusia pemimpin di atas bumi. Makanya, dia harus kenal dengan buminya. Jati diri manusia perlu di cari. Untuk itulah harus merantau..”

“Tapi kenapa cewek ngga? Kenapa Angku marah waktu mak mau merantau?”

Belum sempat menjawabnya, Dewi menoleh kea rah kanan. Ayahnya keluar dari kamar.

“Ke masjid dulu, Wi,” pamitnya, lalu mengajak Ramdhan. Ramdhan segera bangkit. Mengikuti kakeknya keluar rumah. Pagi masih buta, udara juga masih dingin. Ujian iman bagi umatnya Nabi Muhammad. []

***

[1] Buyung. Panggilan untuk anak kecil

[2] Pepatah Minang yang artinya adat Minang berlandaskan syariat, syariat berlandaskan kitab Allah

[3] Duit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *