Novel Merah Putih Bab 5: Tanah Impian Harus Dijemput dengan Sekolah Tinggi, Betul?

“Bukannya Ayah sendiri yang bilang kalau usaha jangan setengah-setengah?”

“Tapi ayah ngga mau kamu sedih.”

“Maksud ayah?”

“Biar Ramdhan ayah jaga. Kamu pergilah!”

“Pergi bagaimana, Mas Yuda saja sudah dapat orang…”

“Takdir itu ada di ujung usaha, masak menyerah sebelum bertempur…”

“Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan,” sahut Ramdhan dari belakang. Dewi menoleh. Begitu juga Pak Zen. Ramdhan terkekek. Ia sedang membaca Koran. Melihat orang tuanya bereaksi, ia hanya melirik saja.

“Bener kata anakmu. Jangan takut gagal. Jangan takut salah. Tapi takutlah untuk sempurna.”

“Maksud ayah?”

“Gini, Wi. Orang yang tidak takut gagal, dia akan berani mencoba., berbeda dengan orang yang inginnya selalu sempurna, biasanya dia takut untuk gagal. Makanya dia takut mencoba. Selalu minder. Ayah, menikahi Amakmu, dengan prinsip tidak takut hidup. Makanya, meski kami hidup dalam kemiskinan, Amakmu selalu senang. Hanya saja…”

“Kenapa?” tanya Dewi menyelidik.

“Ayah yang terlalu temperamental…” terangnya lirih. Dewi  melihat wajah ayahnya berubah sendu.

“Kamu percepat langkah. Agar bisa cepet sampai ke tujuan,” imbuh Pak Zen.

Dewi mengembuskan nafas. Lalu menyodorkan makanan kepada ayahnya. Ayahnya membuka mulut sambuil terus menatap anaknya. Ia mengunyah makanan sambil bertanya rencana selanjutnya. Dewi tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya melirik Ramdhan yang sedang asyik membaca Koran.

“Mau pelan-pelan sajalah, Ayah..”

“Ngga bisa gitu, Wi. Ramdhan biar ayah yang jag.”

“Biar pelan, tapi saya ngga ingin berjalan mundur kok. Ayah tenang saja. Tapi..”

“Apa?”

“Dewi takut merepotkan ayah. Apa ayah..” Dewi membungkam mulutnya.

“Ah, kamu!”

Dewi merasa ayahnya sudah berubah.

“Bukannya kemarin ayah menetang Dewi?” ia bertanya dengan wajah berkerut.

“Hujan ngga selamanya menyebabkan banjir. Wi. Begitu juga dengan panas. Ada kalanya orang harus berfikir ulang soal keputusannya,” tegas Pak Zen. Dewi tersenyum. Ia menyuapi ayahnya lagi.

Telinga Dewi menangkap Ramdhan membaca dengan suara agak keras berita beasiswa. Bocah itu bertanya pada ibunya soal beasiswa. Dewi menjelaskan dengan detail. Ramdhan terheran-heran. Lalu bertanya lagi soal caranya. Dewi balik bertanya syarat apa yang di berikan di Koran itu.

Ramdhan menjelaskan yang ia baca. Kemudian ia bergumam sendiri. Dewi tersenyum sambil mengiyakan. Ramdhan kembali membaca Koran lainnya. Namun, ia bolak-balik Koran itu dengan cepat. Ia lipat lagi. Sedetik kemudian sibuk mengobrak-abrik tumpukan Koran di atas meja. Oibunya tertawa kecil. Kembali menyuapi ayahnya. Selesai makan, Pak Zen minta jeruk. Dewi mengupaskan jeruk sambil menawasi Ramdhan. Ia tergelitik melihat antusias anaknya soal pendidikan.

“Kamu lihat, kan?”

“Iya,” sahut Dewi.

Dewi bercerita, ia ingin anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Sampai ke negeri Turki. Lalu pulang ke Ujung Ladang. Dewi ingin anak-anaknya memiliki pengetahuan luas. Karena di Indonesia syarat menjadi pegawai adalah ijazah, maka Dewi ingin anak-anaknya minimal punya ijazah S-1. Tidak seperti dirinya yang berijazah SMP. Tiba-tiba Dewi bercerita soal suaminya.

Ia juga mengungkapkan kerinduan dengan anaknya yang pertama. Ayahnya menyuruh menelphone. Dewi enggan. Katanya, biar belajar dulu saja. Apalagi anaknya di pondok pesantren sekaligus sekolah. Nanti, jika ada uang ia ingin mengajak Ramdhan dan ayahnya menjenguk ke Palembang. Sang ayah setuju, sebab ia sudah lama tidak bertemu cucu pertamanya itu.

Ramdhan bersuka cita mendengar berita itu. ia bahkan mengatakan ingin ikut ke pondok. Namun Dewi mengatakan lain. Ia menceritakan kembali tentang Negeri Turki. Dan harapan agar ia sekolah di sana. Dewi senang melihat respons Ramdhan. Ia pun mengatakan akan terus berjuang agar Ramdhan bisa sekolah tinggi.

Tiba-tiba Ramdhan menyela, menyatakan keinginannya sekolah dengan beasiswa. Pak Zen menyatakan kekagumannya pad sang cucu. Katanya, ia menuruni keinginannya yang tidak terlaksana. Pak Zen bercerita panjang lebar. Ketika kecil, ia ingin sekali sekolah sampai ke Jakarta. Ia ingin bisa berdagang juga di sana.  Lelaki Minang memang jado dalam berdagang. Tapi apa daya, ia ditinggal kedua orang tuanya ketika kecil.

Pak Zen tinggal bersama pamannya sejak kecil. Sang paman tidak begitu peduli dengan pendidikannya. Sejak kecil ia hanya di jari ilmu mencangkul, mengolah sawah. Jadilah ketika besar ia hanya bsia itu dan itu saja. Sampai tua ia tidak memiliki ketrampilan lain. Hanya mengolah sawah. Dan berdagang dalam skala kecil.

Saat menceritakan masa keci, Pak Zen menarik nafas panjang. Matanya menatap dinding. Menerawang jauh entah kemana. Ketika menceritakan masa muda, ia berbinar-binar. Sambil tersenyum. Saat bercerita masa tua dan sata berumah tangga, ia geram, senang, sedih, seperti menahan perih. Terus menerus reaksinya begitu.

“Ayah sama Amak ngga pernah takut. Tuhan menyertakan rejeki dalam setiap perintahnya. Kadang, manusianya yang tidak mengerti saja, kalau rejeki Tuhan ada dalam ikhtiarnya..”

“Tapi kadang Tuhan ngga adil, yah..”

“Hushh..”

“Bener. Dewi negerasa gitu. Tuhan selalu membawa hamba-Nya dalam cerita buruk setelah bahagia, begitu seterusnya. Coba ayah perhatikan kehidupan Dewii..”

“Maksudmu punya ayah miskin, gitu? Melarat kayak aku ini?”

“Duh, kok ayah gi…” Pak Zen memotong ucapan anaknya.

“Alah kamu tahu,  Wi. Kalau kamu mau minggat ya minggat saja, asal jangan ajak Ramdhan…”

“Selalu begitu, selalu sensitive,” bentak Dewi. Ia mennyeret Ramdhan keluar. Meninggalkan ayahnya sendirian. Meski sang ayah mendumel tidak karuan. Ramdhan berjalan terseok.

“Kenapa Amak selalu bertengkar, sih??”

“Angkumu terlalu egois dan pemarah,” jawab Dewi singkat. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Lalu di ruang depan, terlihat bangku panjang. Duduk di sana sekitar 10 an orang. Disebelah kiri adalah ruang informasi. Dan lalu-lalang perawat serta manusia masih berjubel. RSUD Kota Solok yang terletak di Jalan Simpang Rumbio, Solok, ini memang selalu ramai. Siang dan malam.

Sesampai di beranda RSUD, Dewi melihat wanita berumur 50 an tahun tersenyum kepadanya. Ia membalas senyuman. Si ibu menghampiri Dewi. Dewi menatapnya. Ramdhan menyela, menanayakan si ibu. Dewi menjawab ringan kalau ia dokter. Padahal, Dewi saja tidak kenal. Hanya dari pakaiannya yang putih.

“Anaknya  Pak Zen?” sapa wanita tadi lembut. Masih tesrenyum. Wajahnya segar dan sangat ceria.

“Benar, emm…” Dewi gugup. Papan nama yang ada di dada sang wanita menjawab kebingungannya.

“Bu dokter.. Ervia..”

“Panggil saja Ervi,” tukasnya.

Ternyata wanita itu teman juragan ayahnya. Dewi di ajak masuk ke dalam. Karena ada yang hendak di sampaikan olehnya. Ruangan kerjanya ada di lantai satu. Besar dan sangat nyaman. Ruangan ber-AC. Di sana Dewi mendapat cerita banyak soal penyakit ayahnya.

Penyakit Pak Zen yang cukup berat hanya satu: paru-paru. Selain itu hanya butuh istirahat saja. Dewi mengangguk. Bu Dokter juga menyampaikan kalau semua biaya sudah di tanggung oleh Angku palo. Dan hari itu, Ayahnya boleh pulang karena sudah cukup sehat. Ramdhan memekik girang. Dewi justru bingung. Sampai ia keluar dari kantor Dokter Ervinova.

Dewi kembali ke ruangan ayahnya. Sebuah ruangan VIP. Memang tidak begitu lebar. Tapi cukup luas. Tivi menggantung di atas pintu. Sebuah kursi sofa cukup untuk duduk 3 orang dewasa. Ada kulkas dan AC. Dewi menatap datar kepada ayahnya. Sang ayah rupanya baru keluar dari kamar mandi. 2 menit setelah Dewi masuk, perawat datang memberitahukan administrasi sudah beres. Hari itu Pak Zen sudah boleh pulang. Ternyata setelah perawat masuk, Dokter Ervinova juga masuk.

Dokter menjelaskan perihal sakit Pak Zen. Lalu dengan ramah ia memberitahukan kondisi kesehatannya.

“Terima kasih sekali, dokter, terima kasih, terima kasih,” ucap Pak Zen sambil membungkuk.

“Oya, Pak Zen bisa pulang pakai ambulance. Nanti saya sampaikan dulu,” terang dokter Ervi. Lalu mengambil hapenya. Ia bicara dengan seseorng.

“Alamatnya mana, Pak Zen?” tanya bu dokter. Di jawab singkat oleh Dewi. Hanya butuh 2 menitan.

“Oke, nanti langsung ke depan saja. Ada ambulance yang sudah menunggu. Eh, saya suruh ke sini saja sopirnya yah!”

“Terserah ibu saja,” sahut Dewi.

Dokter Ervi pamit. Sebelumnya menjabat tangan Pak Zen mendoakan agar cepat sehat. Ia menyerahkan amplop kepada Dewi. Dewi menolak, dokter Ervi memaksa. Dan keluar ruangan dengan alasan hendak menemui sopir ambulance. Dewi bersyukur, namun ia merasakan perih di dada.

“Amak kenapa nangis?” ramdhan memecah lamunannya.

“Ayah kere, anak ketularan kere. Hidup sengsara,” Pak Zen menyela. Dewi diam tidak membalas. Malahan ia menyuruh Ramdhan merapikan tempat itu. membawa barang miliknya. Pak Zen diam sambil mematung. Matanya terus menatap keturunannya. Tanpa sepatah kata.

“Ramdhan lihat kan, piring ini lebar? Tapi lebarnya piring ini tak seberapa di banding bumi ini..”

“Anak ngga tahu diri, ayah pemarah, tersinggungan, udah tahu, aku. Udah ngerti,” Pak Zen menyalak cari penyakti. Pak Zen bangkit. Keluar dari ruangannya. Bersamaan dengan itu masuk dua orang lelaki. Satunya memakai baju warna biru. Satunya warna putih.

“Pak Zen?” sahut si lelaki berbaju putih. Pak Zen mengangguk.

“Mana barang yang mau di bawa, Pak?” tanyanya. Si lelaki berbaju biru menyerobot masuk kedalam. Membantu Dewi merapikan barang bawaan.

“Tanya sama itu,” kata Pak Zen seraya mengarahkan jari telunjuk ke Dewi. Wajahnya memberengut. 10 menit kemudian mereka selesai mengemas semua barangnya. Dan ambulance meraung-raung membawa Pak Zen pulang kerumah. Dewi, Ramdhan dan Pak Zen di belakang, sedangkan perawat duduk di depan.

Jalan menuju Desa Ujung Ladang ditempuh hanya 30 an menit. Karena hanya 15 an kilo meter. Ambulance mengantar sampai ke mulut gang. Karena desa Ujung Ladang ada di dataran tinggi, sedangkan menuju rumah Pak Zen harus dengan melewati jalan kecil yang tidak bisa di lewati mobil.

Baru saja duduk di dalam rumah. Dewi juga baru melangkah menuju dapur. Rumah berdinding kayu itu panas kembali. Bagai di bakar oleh api  besar. Pak Zen kembali menyalak. Ia terus merasa Dewi menyudutkannya. Untungnya, Ramdhan tidak di rumah. Sudah berulang kali ia menyaksikan pertengkaran ibu dan kakeknya.

Dewi tidak jadi masuk ke dapur. Ia duduk di depan ayahnya. Di bangku kayu dengan hiasan meja di tengahnya. Dewi menyimak seluruh ocehan ayahnya. Bahkan ia menyuruh ayayhnya menumpahkan sleuruh uneg-unegnya. Lima menit Pak Zen bersabda. Giliran Dewi murka,

“Ayah ini ngga ngerti terima kasih. Sudah untung aku mau ngerawat ayah, kerjanya nuduuuhhh mulu. Mau aku mati? Mau aku gila apa stress. Di jalanan telanjang sambil joget-joget..”

“Wak  Kau memang anak durhaka. Sama orang tua ngelawan terusss. Memaki teruss. Bentak lagi.”

“Ayah yang durhaka. Sejak kecil apa usaha ayah untuk anak? Hanya amak yang banting tulang buat ngasih makan aku..”

“setaaannn..” tangan kanan Pak Zen melayang ke pipi Dewi. Wanita kurus berpipi tirus itu tumbang seketika. Ia merasakan bibirnya perih.

Dadanya menggemuruh. Dan menghentakkan air bah yang tersembunyi. Air itu tumpah melalui sudut matanya. Dewi bangkit.

“Sakit, sakit sekali. Punya ayah ngga pernah mikir. Yang di urus cuma tersinggung terus..” Dewi berlari sambil menahan air matanya yang terus merembes. Ia masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Pak Zen mendumel tidak karuan. Meski ia memegangi tangan kananya. Perlahan, lelehan air bening muncul dari sudut matanya. Putih bola mata berubah memerah. Berkaca-kaca. Dan hilang setelah di usap oleh Pak Zen.

Ramdhan datang membawa jajanan. Ia mengernyitkan dahi melihat kakeknya menangis. Ramdhan mencari tahu jawabannya, namun sang kakek hanya mengarahkannya kepadaibu di kamarnya. Ramhdna bergegeas menuju kmar. Mengetuk pintu kamar ibunya. Telinganya menangkap suara tangis. Makin lama makin besar.

Ramdhan berkeringat. Ia coba memanggil lagi. Maknya terus menangis. Bocah itu makin bingung. Tiba-tiba ia merasakan dadahnya bergemuruh. Bening putih lembut di hatinya bergetar-getar cepat. Efeknya menjlar sampai ke seluruh tubuh. Kemudian naik ke mata. Mata menghangat. Bibir tidak bisa di katupkan. Sekelilingnya menjadi gelap, semuanya tidak mengenakkany. Bahkan jajanan yang baru ia beli dilkepas begitu saja. Semuanya membuatnya jengkel. Kakeknya pun begitu., bangku seakan bisa bicara lalu membuatnya marah, takut.

Suasana makin mengharu. Ibu dan anak nangis, kakeknya pun sama. Sampai beberapa menit kedepan suasana masih sama. Hanya suara tangisan yang terdengar. Ramdhan menggelosor di tanah. Ia duduk membekap lututnya. Matanya wajahnya basah oleh air mata. Bahkan kaos yang di pakainya. Sampai beberapa saat ia terus begitu. Ketika ia merasa tidak ada lagi yang menolongnya, sebuah cnegkraman tangan membuyarkan tangisnya. Ia menggerakan kepala ke arahnya.

Amakkk..” pekiknya ringan. Bocah Dewi menggendongnya masuk ke kamar. Kemudian memeluknya sambil tidur.

“Ingat ya, Ramdhan. Kebahagian bukan berasal dari materi. Tapi dari ini..” katanyas ambil menunjuk ke kepala.

Iiya.. Mak.”

“Kendalikan pikiranmu. Kamu bisa dapatkan kebahagiaanmu. Jangan seperti Angku yang selalu membiarkan pikiran jeleknya keluar..” terangnya. masih terisak. Dewi mencoba menabahkjan anaknya, meski Ramdhan tetep tersedu.

“Apa yang Ramdhan pikirkan, itulah yang Ramdhan lihat. Duniamu ada di pikiranmu. Ramdhan harus sekolah yang tinggi. Amak akan cari kerja..”

“Iya, Mak. Kemarin Bu Kepala Sekolah marah lagi. Ramdhan di suruh beli buku buat tugas sekolah..”

“Sabar, ya! Amak akan ke sekolah besok. Sabar, sayang!”

“Kata Ibu Kepala Sekolah, kalau Ramdhan ngga beli buku terus mau dikeluarin dari sekolah, Mak,” lirihnya sedih. Suaranya pilu. Dewi merasakan hatinya pedih bagai di sayat-sayat lalu di beri cuka.

Dewi menghibur Ramdhan. Tangis keduanya sudah meredup. Meski Ramdhan masih terisak, namun tidak seperti tadi. Dewi hanya bisa memeluk anaknya. Dan mencoba menghiburnya. Ia kembali mengatakan pada Ramdhan untuk merantau. Ramdhan tidak menjawab, ia memeluk ibunya erat. Sambil menangis.

Ramdhan menjeda dari menangis. Dewi menanyainya untuk tinggal bersama Mintuo di Bukit tinggi. Namun Ramdhan menolak. Ia ingin tinggal bersama kakeknya. Meski ibunya tidak ada, ia ingin menjaga kakeknya yang sudah tua. Dewi memberikan pengertian seadanya. Dengan datar, Ramdhan menjelaskan kalau seorang anak harus menjaga orang tuanya sampai akhir hayat. Ia berdalil dengan erkataan Tuanku Abdul Karim guru mengajinya.

Siang beralih sore. Perlahan namun pasti sang surya tenggelam. Hari berganti. Malam datang. Rupanya Dewi benar-benar mendiamkan ayahnya. Malam itu, ia dan Ramdhan keluar rumah. Dewi ingin menyenangkan anaknya dengan makan di luar. Meski hanya beli sate padang saja. Keduanya berjalan sambil terus mengobrol. Ramdhan menayakan kapan Maknya akan pergi. Dewi tidak bisa menjelaskan kalau ia tidak jadi ikut anaknya Om Ramli.

Makanya Dewi menjanjikan saja. Ia berkata sedang menunggu panggilan. Kalau panggilan itu datang, barulah ia pergi.

“Apa tempatnya jauh, Mak?”

“Jauh sekali,” terang Dewi.

“Di Jawa, besok kalau kamu sudah besar pergilah ke sana. Dari sana terbang ke Turki..”

“Mak pengen banget ke Turki?”

“Turki itu negeri penuh budaya. Kaya budaya tua di dunia ini. Itu negeri impian Mak. Kalau kamu mau tahu asal-usul agama, datanglah ke sana…”

“ Di mana, Mak?”

“Konstantinopel. Negeri inilah yang di taklukan pasukan Islam. Negeri inilah yang di katakana oleh Baginda Nabi..”

“Di sebutkan dalam hadits, ya?”

Dewi mengangguk. Lalu ia menerangkan lagi.

“Sekolah setinggi mungkin. Tapi jangan sekali-kali berfikir ijazahmu akan bisa membuat bahagia. Karena ijazah adalah tanda saja…”

“Tanah impian mesti di jemput dengan sekolah tinggi, betul mak?” sela Ramdhan. Dewi menggerakkan kepala ke bawah. Bibirnya mengembang.

Keduanya terus berjalan sampai di jalanan besar. Jalanan desa berbelok-belok. Sesekali berhenti, karena bertemu dengan kenalan. Kebanyakan bertanya soal Pak Zen. Dewi menjawab ringan. Menerangkan kalau ayahnya sudah sehat. Di akhiri dengan harapan dan doa. Dewi kembali menekuri jalanan desa di dataran tinggi itu.

Kontur desa dataran tinggi memang naik turun. Dahulu, tahu 1960 an kebawah, adat masih sangat teguh dipegang. Wanita memakai jilbab lilit. Atau jilbab yang di buat menutupui sebagian kepala dan leher. Memang rambutnya masih terlihat. Surau menjadi tempat terbaik memagari anak-anak dari penyesatan Iblis. Kadang, lulus dari Surau mereka langsung merantau. Minimal setiap sore anak-anak di tanah Minang akan belajar silat. Budaya Minang memang keras dan penuh disiplin.

Kini keindahan masyarakat yang beradat sudah tergeser. Anak mudah sudah banyak yang tidak tahu makna adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah. Pergeseran adat diikuti masuknya budaya asing. Seperti panggilan tradisional Mintuo dan semisalnya yang mulai hilang.

***

 

 

 

Leave a Comment

error: Content Dilindungi !!