Novel Merah Putih Bab 4: Amak Jangan Menangis

Sekitar jam 6 lebih 10 pagi, Ramdhan di hampiri oleh teman sebayanya. Keduanya berangkat ke sekolah bersama. Dewi, ibunya melepas Ramdhan dengan pelukan dan ciuman di kening. Tak lupa pesan agar pintar-pintar di sekolah. SD tempatnya sekolah cukup jauh. Sekitar 1,5 kilo. Meski begitu Ramdhan hanya jalan kaki.

Dewi melepas Ramdhan di depan pintu. Setelah Ramdhan menghilang dari pandangan, ia masuk ke rumahnya. Ayahnya sedang duduk malas di kursi. Hari itu, Dewi melihat ayahnya berbeda. Biasanya, sepagi itu sudah berganti pakaian ke ladang. Namun kali itu janya duduk sambil minum kopi saja. Bahkan dia tidak merokok.

“Ayah kenapa? Sakit?” tanya dewi lembut.

Sang ayah menarik nafas panjang. Lalu menatap keluar rumah sambil mengembuskan nafas pelan. Mencari kelegaan.

“Dewi siapkan sarapan, yah!?”

Diam tanpa jawaban. Malahan sang ayah mengusap air yang merembes dari sudut matanya.

“Kenapa, ayah?” lirih Dewi. Dahinya berkerut.

“Ayah sakit?” imbuh Dewi. Kali ini ia memegang tangan ayahnya.

Sang ayah menolak dengan kasar. Dewi tidak merespon, ia langsung masuk ke dapur. Membiarkan ayahnya duduk di kursi.

“Wiiii..”

Pak Zen mengulang panggilannya.

“Wiiii”

Sekali lagi, “Dewwiii….”

Suara itu lirih sekali. Dewi menangkap panggilan. Ingin beranjak, namun ragu. Setelah lima kali ayahnya memanggil, barulah ia datang.

“Ayah buatkan kopi, ya!” pinta Pak Zen.

“Minum obat ayah. Jangan kopi!”

“Ngga papa.”

“Nanti siang ke puskemas saja,” bujuk Dewi.

“Duit dari mana? Ayah sudah berhutang banyak sama Angku Palo. Ngga enak…”

“Dewi masih ada duit..”

“Simpan untuk anakmu,” sahutnya cepat. Pak Zen tetap memandang ke luar rumah melalui pintu yang terbuka.

“Ngga papa. Masih ada kok…”

“Sekali-kali jangan melawan sama perintah ayah. Kamu butuh uang banyak untuk ongkos merantau, kan?”

Dewi diam. Ia hanya berdiri mematung.

“Buatkan ayah kopi!”

Gelas itu diraihnya. Lalu berlalu menuju dapur. Terdengar lagi suara ayahnya.

“Jangan kebanyakan gula.”

Dewi menyahut nyaring. Hanya butuh beberapa detik ia membuat kopi. Kembali menyuguhkan kepada ayahnya. Ia duduk di depan ayahnya. Menatap wajah tua yang sudah keriput itu.

“Gimana rencanamu merantau?”

Dewi menunduk. Sengaja tidak langsung membalas.

“Apa jadi ke… em, kemana?”

“Kalimantan. Ikut anaknya Om Ramli.”

“Jadi?” tanya Pak Zen sambil batuk.

“Ayah sakit. Dewi belikan obat sebentar.

“Ngga usah, duduk aja!” tukas Pak Zen lemah.

Keduanya hening tanpa kata. Hanya suara nafas Pak Zen yang memburu. Lalu batuk lagi. Begitu terus. Dewi tetap diam.

“Ayah sebenarnya….” Pak Zen batuk.

Lalu batuk lagi. Panjang.

“Ayah pucat begitu,” tukas Dewi.

“Ngga usah cemas gitu. Ayah ngga papa.” Tiba-tiba, Pak Zen ambruk. Seketika Dewi histeris. Ia berteriak meminta tolong.

2 menit ia berteriak, tidak ada yang datang. Lalu ia keluar rumah dan memekik minta tolong. Masuk lagi ke dalam rumah. Datang dua orang lelaki tua. Yang satu memakai pakaian kotor. Nampaknya ia sedang menggarapa ladang di bawah rumah Dewi. Keduanya langsung membopong Pak Zen ke ranjang. Lelaki satunya,

“Kamu panggil Pak Mantri. Eh jangan, ke rumah Pak Erick saja. Minta suruh antar ke rumah sakit…”

“Tapi…”

“Ya sudah, kamu jaga ayahmu.” Lalu lelaki itu melompat. Berlari keluar rumah. Dewi mengambil minyak kayu putih. Di oleskan ke hidung ayahnya. Dewi mencoba menyadarkan ayahnya yang pingsan.

Pak Erick datang, Dewi masih panic. Pak Zen di bawa dengan mobil ke rumah sakit. Karena badannya panas dingin. Apalagi dari hidungnya keluar darah. Saat perjalanan menuju rumah sakit,  Dewi terus mengusap keringat yang merembe di pori-pori ayahnya. Wajah itu sudah mulai keriput. Tua, hitam legam. Matanya tidak lagi tajam seperti dulu.

Dewi merasakan air matanya menetes ketika bibir Pak Zen bergerak-gerak menyebut namanya. Tiba-tiba angnnya terlempar ke masa kecil. Ia pernah mengalami nasib serupa. Ketika itu dirinya hanyut di Sungai Gadang. Ayahnya cemas bukan main. Untung saja ia selamat. Namun malam harinya ia menggigil. Panas dingin. Ayahnya berlari menggendong dirinya. Padahal waktu itu ayahnya tidak punya duit sama sekali.

Ia tahu ayahnya tidak punya duit. Karena, waktu itu ia minta dibelikan sepatu untuk sekolah. Sedangkan ayahnya mengatakan belum ada duit. Karena tidak tahan di ejek temen-temennya, ia memaksa ayahnya. Apa daya, ayahnya tetap menjanjikan saja. Tidak bisa membelikan seketika itu. ia marah, lalu berlari. Waktu itu sedang gerimis, sekitar pukul 4 sore. Saat melewati pinggiran sungai gadang ia terpeleset. Jatuhlah ia ke sungai.

Pencarian memakan waktu sampai 5 jam. Untung ia masih bernyawa.

Malam harinya, sekitar jam 10, Dewi menggigil. Badannya panas dingin dan ia kejang-kejang. Dari mulutnya keluar busa seperti orang keracunan. Pak Zen seorang diri membawanya ke rumah mantri. kebetulan rumah mantra tutup karena orangnya sedang pulang kampung. Ia mengikat Dewi di punggung. Berlari sekuat tenaga membawanya ke rumah sakit. Di tengah jalan, bertemu dengan Angku Palo Desa Ujung Ladang yang membawa mobil. Pak Zen di antar Angku palo pakai mobil.

Makanya, Dewi terus menanggil nama ayahnya.

“Dewi ngga pernah lihat mamak. Ayah jangan sakit..”  tangisnya seperti anak kecil.

“Sudah, Wi. Ayahmu ngga papa. Sabar dulu….” Bujuknya.

Pak Erik memacu kendaraan membelah jalanan. Karena rumah sakit ada di kota, maka jaraknya juga cukup panjang. Sekitar 10 sampai 15 kilo. Butuh waktu 30 an menit. Barulah sampai di rumah sakit. Pak Erick turun dari mobil, membopong Pak Zen. Untung perawat sigap. Pak Zen langsung mendapatkan pertolongan. Ia dibawa perawat masuk ke dalam rumah sakit. Dewi menunggu di luar. Pak Erik menemani.

Jam belum menunjukan pukul 9. Malahan baru 8 lebih sedikit saja. Air mata Dewi terus tumpah. Ia duduk menyendiri. Wajahnya kisut karena terus menangis. Pak Erick tetangganya mencoba menenangkan.

“Saya menyesal, Pak.”

“Menyesal kenapa?”

“Ayah pasti sakit karena memikirkan saya.”

“Soal yang kemarin itu?” tanya Pak Erik. Dewi mengangguk.

“Semua tetangga sudah faham siapa kami. Kamilah keluarga paling ribut.”

“Jangan ngomong begitu,” potong Pak Erik. “Semua orang pasti pernah berbuat salah. Kamu yang sabar, Wi. Pasti ada hikmah dari semua ini.”

“Tapi kalau bukan saya ngotot mau merantau pasti bapak ngga akan..”

“Maaf bapak potong omonganmu. Menyesal itu bagus, Wi. Tapi meratapi tidak bagus. Kamu masih ingat Viona?”

Dewi mengangguk.

“Dulu, saat bapak jodohin sama Adam, menolak seperti apa. Ketika Adam meninggal dia berubah 180 derajat. Untungnya, di sudah menyadari kesalahannya. Sekarang, dia sudah menikah lagi sama pemuda Malaysia. Sekarang dia sadar,  kalau sabar adalah senjata utama menjalani hidup yang penuh ketidak mungkinan ini.”

“Bapak senang, anak bapak itu sekarang bisa dewasa. Bahkan sering jadi tumpuan cerita bapak waktu banyak masalah. Juga ibunya yang sering minta nasehat ke dia….”

“Apa saya bisa, Pak?”

“Bisa, nak. Semua orang bisa berubah asal dia mau. Memang ada baiknya kamu pikirkan lagi rencana merantau itu. bukan hanya karena anakmu lebih butuh kamu di sisinya. Tapi mungkin ada ganjalan di hati bapakmu yang ngga bisa di katakan.”

Pak Erik mencoba menenangkan Dewi. Ia mengelus dan menepuk punggung gadis berambut ikal itu. kaos putih yang di pakai Dewi basah oleh air mata.

“Ambil hikmah dari semua ini..” imbuh Pak Erik.

“Amaakkkk..” tiba-tiba terdengar teriakan Ramdhan. Dewi menoleh, berdiri. Ramdhan berlari memeluk Maknya. Di belakang Ramdhan, berdiri lelaki berkacamata. Peci hitam menghias di kepala. Wajahnya memiliki wibawa seorang kepala suku.

Dewi berlari menyambut lelaki itu. lalu meraih tangannya dan menciumnya.

“Angku Palo.”

“Mana bapakmu?” tanya lelaki itu. Dialah kepala desa, atau yang biasa disebut angku palo.

“Di dalam, Angku. Masih di periksa dokter,” terang Dewi.

“Sabar, ya!” bujuk Angku palo.

Mereka semua duduk di bangku panjang rumah sakit. Berbincang kecil. Dewi menceritakan kronologisnya. Pak Erik dan Angku Palo manggut-manggut.

“Kamu jadi merantaunya?” tanya angku palo kepada Dewi.

“Belum tahu,” sahut Dewi lirih. Suaranya seakan hilang.

“Kalau memang itu yang terbaik, kenapa tidak kamu jalankan. Yang sudah menjadi garis-Nya tidak bisa di cegah. Manusia perlu mencoba untuk terus maju. Nanti akan di tunjukan jalan yang terbaik.”

“Tapi..”

“Kenapa?”

“Eh..”

“Ngomong saja. Ngga usah ragu!”

“Kalau ayah sakit begitu siapa yang ngurus? Saya bingung Angku.”

“Minimal setelah ayahmu sembuh. Soal biaya rumah sakit, biar angku yang tanggung. Kamu tenang saja.”

Wajah Dewi berbinar mendengarnya. Lalu ia menggelosor meraih kaki Angku Palo. Menciumnya.

“Angku sudah terlalu banyak berbuat baik pada keluarga kami.”

“Eii, bangun-bangun,” kata Angku palo seraya mengangkat bahu Dewi.

Dewi enggan untuk bangkit. Ia terus mencium kaki laki-laki di depannya. Angku palo mengangkat paksa. Ramdhan yang melihat hanya bisa menangis. Ia belum faham apa yang terjadi. Hanya ikut-ikutan ibunya. Ketika ibunya tidak mau berdiri, Ramdhan mendekat. Memeluk ibunya,

Amak jangan menangis.”

Amaaakkkk..” imbuh Ramdhan. Air matanya terus tumpah. Dewi menangis tersedu. Beberapa orang yang sedang lalu-lalang di rumahs akit memandang heran. Perawat dan dokter bergeming dari pemandangan itu, mungkin mereka sudah terbiasa, sehingga tidak lagi memikirkan kenapa bisa terjadi.

Pak Erik tersedu-sedan.

“Sudah, Wi. Bangun,” bujuk Pak Erik. Untuk kedua kalinya Angku palo mengangkat Dewi. Kali ini, berhasil. Wajah Dewi dipenuhi air bening. Membasahi pipi, mata dan bagian wajah lainnya. Rambutnya awut-awutan karena tadi dia memaksa untuk mencium kaki Angku Palo.

Angku palo mendudukan Dewi. Di ikuti Ramdhan yang juga tersedu. Pak Erik menepuk pundak Dewi, ingin memberi dukungan juga. Ketika kondisi sedang penuh haru, muncullah perawat.

“Keluarga pasien yang tadi?”

Dewi berdiri menyahut.

“Mbak Silahkan ikut saya.”

Dewi hendak melangkah. Namun Angku palo membuntui.

“Saya ikut, Wi.”

Ramdhan ditinggal bersama Pak Erik. Keduanya berjalan mengikuti perawat. Ternyata ke ruang dokter. Sang dokter terbelalak begitu melihat kedatangan Angku palo desa Ujung Ladang.

Keduanya bersalaman. Lalu saling peluk. Nampak keduanya sangat akrab. Suasana cair setelah Angku palo mengenalkan Dewi.

“Jadi, dia inii…?”

“Keponakan. Anak Mintuo,” sahut Angku Palo. Dewi menunduk mukanya memerah. Ia hanya diam tidak berani ikut bicara.

“Jadi, apa sakitnya…” Dokter memotong.

“Oh, iya..” kemudian dokter menerangkan. Sekitar 10 menti dokter menerangkan kondisi Pak Zen.

“Mau ngga mau, harus di rawat di sini untuk beberapa waktu…”

“Opname?” dewi menyahut cepat. Wajahnya menampakkan eskpresi terkejut. Matanya membelalak.

“Tenang, Wi,” Angku Palo menengahi.

“Tetap harus bersyukur karena penyakit ayahmu bukan penyakir berat,” imbuhnya. Dewi mengangguk namun bias bingung muncul di wajahnya.

“Ya sudah, dok., saya minta kamar yang bagus saja.”

“Oh, ke ruang administrasi,” jawabnya. Dewi menatap keduanya, ia memperkirakan usianya tidak terpaut jauh.

“Baik.” Angku palo mengajak Dewi keluar. Lalu mendaftarkan Pak Zen agar mendapatkan ruang VIP.

Untuk sementara, Dewi merasa lega. Meski ia bingung harus mengucapkan apa kepada Angku Palo. Baginya, kebaikan orang itu sudah tiada terkira. Pantas saja jika ia selalu di inginkan menjadi kepala desa. Bahkan ketika ia tidak menginginkan. Warga ingin orang terbaik menjadi pengayom.

Pak Erik pamit pulang setelah kepulangan Angku Palo. Namun kembali lagoi sehabis maghrib bersama istrinya. Pak Zen juga sudah sadar, ia tidak bisa bicara banyak. Katanya masih terasa lemas. Dewi menungguoi ayahnya di samping. Ramdhan memijat kaki kakeknya itu.

Pak Erik  memberikan amplop. Begitu juga istrinya. Dewi hendak menolak, namun Pak Erik memaksa. Terpaksa ia mnerima. Pak Erik mengatakan, akan sering menengok. Nanti jiak sudah oleh pulang, ia akan menjemput dengam mobilnya. Untuk kesekian kalinya Dewi terharu sampai menitihkan air mata.

Setelah Pak Erik pulang, giliran tetangga dekatnya datang. Malam itu, ada tiga orang yang menjenguk semuanya tetangga dekat. Malam itu juga Dewi dan Ramdhan tidur di rumah sakit. Pak Zen lelap dalam tidurnya. Kata dokter, salah satunya karena kecapekan. Makanya, setelah pulang dari rumahs akit, Pak Zen harus istirahat total. Minimal satu Bulan.

Esok harinya juragan Pak Zen datang dengan istrinya. Lagi-lagi Dewi menangis saat menderima amplop berisi uang.

“Ini untuk keperluanmu selama di sini. Maaf kami ngga bisa bantu apa-apa,” tukas istri Angku Palo.

“Sudah lebih dari cukup…” Dewi menangis. Ia tidak bisa meneruskan perkatannya.

Istri kepala desa memeluk Dewi dan juga Ramdhan. Keduanya menangis di pelukan wanita bertubuh tambun. Suaminya berbicara dengan Pak Zen. Pak Zen terlihat masih lemas.

Bahkan sampai perawat masuk mengantar makanan, Dewi masih menangis dipelukannya. Baru ketika perawat memberitahukan Pak Zen harus makan Dewi menyudahi tangisannya. Lalu, kepala desa dan istrinya pamit. Ia juga berjanji akan terus menjenguk. Minimal sampai benar-benar boleh pulang. Karena ia juga berjanji akan membayar biaya perawatan dan obat di rumah sakit.

Hari itu, hanya menunggui ayahnya. Ramdhan juga tidak masuk sekolah.

“Kalau saja Amakmu masih ada, tentu kita tidak begini,” keluh Pak Zen.

“Yang sudah di gariskan Allah, pasti terjadi, Ayah.”

Ramdhan memijit kaki kakeknya.

“Ayah mau makan apa?”

“Apa bener orang sakit makan buah bisa cepat sembuh?”

“Entahlah, ayah, orang terlalu mudah mencoba-coba tanpa memahami dulu, sih. Tapi kalau ayah pengen itu, biar Dewi keluar beli.”

“Kamu ada duit?”

Dewi nyengir. Namun senyuman itu pahit. Getir karena duit itu pemberian orang.

“Ayah selalu tanya duit dan duit, kan Dewi akan cari. Tenang saja..”

“Tapi…”

“Dewi pergi dulu. Ramdhan jaga Angku, ya?”

Bocah itu mengangguk. Pelan. Wajahnya penuh minyak karena letih dan tidak mandi. Ia masih memamai seragam kesukaanya: celana merah atasan putih. Ramdhan mengajak kakeknya bicara. Seolah dia orang tua, menasehati kakenya agar sabar. Lalu mendoakan dengan banyak doa. Ia mengatakan doa itu di hafalnya dari Surau Tuanku Abdul Karim. Kakeknya menyuruh Ramdhan maju kepadanya. Lalu diciumnya kening si cucu. Ramdhan tersenyum, meski dari sudut matanya merembes air bening.

***

Siang semakin meninggi. Mentari menyengat, panasnya membelai-belai bumi. Bagi mereka yang tidak tahan, tentu memilih berlindung di dalam rumah. Namun, bagi mereka yang tahan, akan siap bertempur di lapangan. Biasanya, mereka adalah sales, penjual es, dan orang yang terpaksa berjalan di bawah terik mentari.

Salah satunya adalah Dewi. Karena ia tidak mendapatkan penjual buah di depan rumah sakit, maka ia menuju tempat lain. Berjalan kaki sekitar 200 meter. Dilanjut dengan naik angkutan kota. Seorang diri menuju kios buah di dekat Masjid Raya Solok.

Tak peduli dengan tubuhnya yang bau, ia mencari buah untuk sang ayah. Wajahnya berminyak., rambutnya tidak terawat. Ia hanya memakai celana jeans warna biru dan kaos hitam. Dewi keliling sendirian. Sekitar sejam ia mencari, akhirnya dapat. Pulang menuju rumah sakit. Total 2 jam an ia pergi. Sesampai

Tergopoh-gopoh ia masuk ke rumah sakit.

Kedua tangannya menteng tas hitam. matanya berkedip-kedip cepat. Tapi kesannya di paksakan. Dari beranda rumah sakit, ia masuk. Lurus sekitar 10 meter, belok kanan. Belok lagi ke arah kiri. Naik tangga. Lurus sekitar 20 meter. Dewi berhenti tepat di bawah sebuah papan kecil bertuliskan ruang Dahlia. Ia mengetuk pintu. Kemudian mengucapkan salam. Tanpa menunggu ijin, ia masuk.

Namun ia terkejut, karena di dalam terdapat dua orang yang begitu ia kenal. Om Ramli dan istrinya. Dewi menyapa keduanya. Meletakkan tas yang dibawa. Mempersilahkan keduanya duduk.

“Sudah dari tadi, Om?”

“Kok tahu, siapa yang ngasih tahu,” imbuhnya. Padahal pertanya pertama belum dibalas.

Om Ramli dan istrinya menjeda dari mengobrol dengan Pak Zen.

“Amak beli apa?” tanya Ramdhan. Dewi mengambilkan bungkusan plastic. Lalu menyerahgkan kepada Ramdhan.

“Makanlah!”

Ramdhan menerimanya. Membuka bungkusan itu. si bocah itu memekik kecil.

Amak mana?” Dewi menunjuk kea rah plastic.

“Makanlah!” pinta Dewi lagi. Ia meraih dua gelas kosong.

“Ngga usah Wi. Ngga usah. Kami mau pulang” terang Om Ramli.

“Lok kok?”

“Sudah dari tadi.”

Istri Om Ramli melempar senyum. Lalu mengajak Dewi salaman.

“Apa ini, Tante. Ngga usah, ngga usah…”

“Sudahlah, ini sedikit dari kami meringankan kebutuhanmu..”

Dewi menerima dengan terpaksa. Ia ucapkan terima kasih.

“O, iya, istrinya Yuda mau ketemu kamu. Besok lusa, bisa?” tukas Om Ramli.

“Suruh saja kesini, mana mungkin Dewi bisa?” sahut istri Om Ramli.

Di sela itu, Ramdhan menawari Om Ramli dan istrinya makan. Ia duduk di pojokan sambil bersila. Om Ramli dan istrinya menyahut. Memuji keramahan Ramdhan. Keduanya melihat Ramdhan beda, meski usianya masih belasan, namun ia begitu tegar. Wajahnya tidak menyiratkan bingung sedikitpun. Malahan ia tersenyum. Kedua orang itu mengungkapkan kepada Dewi. Dewi hanya tersenyum dan membalas dengan merendah.

“Kami pamit dulu, ya!” ucap Om Ramli. Lalu bergeser ke Pak Zen yang sedang terbaring.

“Pak Zen, baik-baik, ya! Cepet sembuh. Banyak rehat dulu…” suara hape berdering. Om Ramli memutus perkataannya.

“Oh, Yuda. Ada apa?”  Om Ramli keluar ruangan. Ia bicara melalui telephone. Dewi kembali bicara dengan istri Om Ramli. Dan juga ayahnya. Ramdhan asyik melahap sarapannya. Tanpa bicara sedikitpun.

“Dewiii, ini Yuda mau bicara sama kamu!” kata Om Ramli sambil memasukan kepala ke dalam ruangan melalui daun pintu. Dewi sigap menerima hape itu. lalu keluar ruangan dan bicara dengan Yuda.

Suara Dewi tidak terdengar dari dalam ruangan itu.  Istri Om Ramli mencandai Ramdhan. Om Ramlinya bicara dengan Pak Zen. Keduanya bercerita diselingi canda. Pak Zen terkekeh, Pak Ramli terkikik. Suasana cair sekali. Dewi masuk dengan wajah memberengut.

“Kenapa, Wi?” tanya Ayahnya. Ia hanya nyengir kecil, pahit.

Om Ramli ikut menanyai, “Apa Yuda bilang?”

“Saya ngga jadi di ajak ke Kalimantan. Katanya sudah dapat gantinya…”

“Lo kok..” protes istri Om Ramli.

“Mas Yuda denger kalau Dewi nunggu ayah di rumah sakit. Padahal, Mas Yuda maunya minggu depan berangkat..”

“Wah, ngga bener nih.” Potong Om Ramli.

“Ngga bisa gitu. Biar Om ngomong sama Yuda..” imbuhnya lagi. Dewi mencegah. Ia memaklumi saja.

“Tapi ngga bisa gitu. Seenaknya saja..” kilah Om Ramli. Istrinya mencoba mendiamkan meski tidak setuju juga. Om Ramli keluar ruangan untuk menelphone.

“Dewi ngga enak, Tante…”

“Ngga papa. Harus dijelaskan, apalagi seenaknya begitu,” ketus istri Om Ramli. Lalu menyuruh Dewi sabar. Keduanya mendengar suara Om Ramli semakin meninggi. Marah. Membentak.  5 menitan Om Ramli bicara dengan Yuda, anaknya. Ia masuk dengan wajah bimbang. Dewi segera menengahi. Dewi mencoba memberikan pengertian.

Om Ramli dan istrinya minta maaf berkali-kali atas ulah anaknya. Apalagi, Yuda membatalkan sepihak hanya karena kebutuhan mendesak saja. Om Ramli memantapkan Dewi, katanya pasti ada yang terbaik untuk dirinya. Dewi mengangguk mantap. Ia antarkan Om Ramli dan istrinya sampai ke depan rumah sakit.

Jam menunjukan pukul 11 siang lebih sedikit. Dewi merasakan kepalanya penat. Matanya berat. Sekembalinya di kamar, ia memilih tidur di kursi. Sedangkan Ramdhan masih menyelesaikan makannya. Usai makan, ia mandi. Lalu membaca kitab suci Al-Qur’an lirih. Kakeknya mengamati. Sedangkan ibunya lelap dalam tidur. Suaranya pelan. Terbata. Terputus-putus, namun banyak yang mengakui Ramdhan memiliki semangat yang bagus dalam belajar.

Hanya 10 menit membaca, Ramdhan terus saja menguap. Ia menyusul tidur. Sebelunya pamitan pada sang kakek. Ramdhan tidur memeluk ibunya dari belakang. Tinggallaah Pak Zen sendiri. Memandang keturunannya itu. Pak Zen masih merasakan pusing di kepala. Dan juga rasa sakit di dada. Ingin rasanya menyelimuti keduanya. Ia urungkan, memilih memandanginya. Cuma itu. sampai keduanya terbangun.

***

Leave a Comment

error: Content Dilindungi !!