Legenda Tampomas
Pemandangan Gunung Tampomas dilihat dari tas

Ada Pengantin Berubah Jadi Batu di Banjarnegara! Begini Cerita Lengkapnya

Posted on

Sekonyong-konyong keduanya memekik, namun si orang tua bergeming. Dan kemudian langit seperti terbuka setelah orang tua menyemburkan sumpah serapahnya. Tak lama, kedua pengantin itu berlari. Hingga sampailah di sebuah tempat bernama desa Majalengka. Si lelaki menyuruh wanita terus berlari, tepat di perbatasan desa Gentansari dan Masaran, petir menggelegar menyambar pengantin wanita. Selanjutnya tangis pecah, ia berubah ujud menjadi sebuah batu besar.

Nasib orang tak ada yang tahu. Tapi petuah orang tua wajib untuk selalu diikuti. Berbagai kisah dan cerita rakyat tersebar tanpa bisa dihitung kembali. Semua cerita tersebut seharusnya menjadikan kita lebih arif dan lebih memiliki adab pada petuah agung orang tua. Namun kita seringkali gengsi.

Di sebuah tempat di Banjarnegara, hiduplah seorang pertapa sakti. Dia memiliki 2 anak asuh, satu cewek sebut saja namanya Gendis. Dan satunya cowok sebut saja namanya Damar.

Keduanya tinggal dalam satu naungan dan satu asuhan. Sejak kecil keduanya digembleng oleh si pertapa tentang kebijaksanaan dan juga kearifan. Namun cinta tak dapat ditolak.

Suatu ketika, setelah bertahun-tahun hidup bersama, Damar jatuh cinta pada Gendis. Cinta di hatinya menjadi besar dan megah. Hingga suatu ketika Damar memberanikan diri mengungkapkan pada Gendis.

“Kakang, aku ngga bisa menolakmu karena aku mencintaimu juga. Namun bagaimana dengan Bopo?”

“Cinta tidak akan pernah salah. Kita akan menghadap pada Bopo….”

“Untuk apa?”

“Membicarakan pernikahan kita!” ujar Damar mantap.

Gendis menatap Damar dengan mata bulatnya tanpa kedip, “Apa kau yakin?”

Damar mengangguk mantap. Gendis cemas, wajahnya pun menciut. Namun Damar terus saja memantapkan.

***

Siang yang cerah, ketika sang Pertapa sedang istirahat, Damar dan Gendis sowan kepadanya. Seperti biasa, hari itu Damar yang memulai perbincangan.

“Kami minta izin untuk menikah, Bopo!”

Bopo terdiam dengan tatapan mata menghunjam pada keduanya. Hening tercipta. Ingatan Damar terlempar pada masa kecil pada perintah Bopo, sejak ia beranjak dewasa. Perintah itu adalah, “Jangan menikah sama adik seasuhan.”

Bopo berteriak, “Angkat wajah kalian!” bentak Bopo.

“Kau lihat! aku ini apanya kalian? kalian sudah sinting!” 

Damar dan Gendis diam. Keringat mencucur deras. “Sekarang pergilah. Kalian bebas menikah tapi jangan di sini. Dan kalian ngga akan pernah bisa bersatu. Tapi kalian akan menjadi keras seperti kerasnya kepala kalian.” Setelah mengucapkannya, si pertapa melenggang begitu saja.

Damar dan Gendis bersipandang. Keduanya cemas, orang tua asuh mereka dikenal sakti. Hampir semua sumpah serapahnya dikabulkan Tuhan.

Hari demi hari Damar dan Gendis gelisah. Tapi kemudian keduanya sepakat untuk melarikan diri saja. Gendis pun berlari, menuju arah barat. Sedangkan Damar akan menyusul.

Di sore hari yang hening. Damar dan Gendis sampai di sebuah daerah bernama Majalengka. “Kau larilah dulu. Aku akan menyusul. Kita bertemu di pinggir Kali Serayu.”

Sesampai di perbatasan desa Masaran dan Gentansari. Terdengar pekikan wanita disertai petir yang menyambar. Setelahnya Damar pun rubuh. Karena ia tidak bisa lari menggerakkan kakinya. Sebab ia berubah ujud jadi batu besar. Keduanya berubah ujud menjadi gunung.

Damar berubah menjadi gunung dengan bagian atas lancip. Sedangkan Gendis menjelma menjadi gunung dengan bagian atas membentuk cerukan.

Malam harinya, Si Pertapa datang kepada keduanya. Sekonyong-konyong keduanya menangis. Meminta ampun pada Pertapa, namun pertapa bergeming. Ia hanya menatap keduanya yang sudah jadi gunung. Kemudian berkata, “Kalian hanya akan bertemu dalam ujud sekarang. Pertemuan di pinggir kali, sebelum pertemuan kau Gunung Wadon, akan longsor. Yang longsormu akan membendung kali serayu.”

Kisah itu kemudian melegenda. Hingga menjadi mitos di kalangan masyarakat. Di kenal dengan Legenda Gunung Tampomas, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tahun 1980 an, Gunung Tampomas diledakkan oleh pemerintah, membendung Sungai Serayu. Demi pembangunan PLTA Mrica. Mitologi ini benar-benar terjadi.

Meski sebatas mitologi, tetapi banyak  sekali pelajaran besar yang bisa diambil bukan? kabar baiknya, Gunung Tampomas sekarang jadi obyek wisata unggulan, Banjarnegara. Ada sekitar 10 fasilitas wisata di sana. Dikunjungi ribuan orang perbulannya.

 

Catatan:

Digubah dari legenda Tampomas, Banjarnegara

Sumber dari Wawancara dengan Andika, Ketua Pokdarwis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *