Doa Niat Puasa Ramadhan Sesuai Hadis Nabi

Posted on

Dalam sejarahnya, di dalam kitab para ulama, nabi pernah mengatakan agar kita berniat ketika mau menjalankan puasa ramadhan. Lalu kapan dan bagaimana doanya?

Akan tetapi, masalahnya, niat puasa diperselisihkan oleh para ulama.

Sebagai contoh doa niat puasa ramadhan yang beredar di masyarakat. Hal itu, disebabkan nabi tidak pernah melafadzkan niatnya dengan lisan.

Dan banyak hadis yang menerangkan niat tidak usah diucapkan dengan lisan.

Lalu bagaimana dengan doa yang beredar di masyarakat?

Kalau untuk ulasan lengkap dan dalil, silakan merujuk ke tulisan di bawah ini.

Baca juga:  Bacaan Niat Puasa dan Doa Buka Puasa Ramadhan 2020

Doa Niat Puasa Ramadhan

Doa secara khusus tidak ada. Anda hanya perlu berniat saja dalam hati, dan Anda bisa berniat di awal bulan puasa, atau ketika sahur pertama di bulan ramadhan. Karena, secara otomatis, jika Anda sudah menyadari masuk dalam bulan puasa, tentu saja setiap harinya Anda akan berniat untuk itu.

Banyak keterangan menyebutkan, kesalahan dalam memahami niat, bermula dari kesalahan sebagian orang dalam memahami pernyataan imam Syafii. Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:

“….shalat itu tidak sah kecuali dengan an-nuthq.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3:277)

An nuthq artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian penganut mazab Syafi’iyah memahami, dengan mengucapkan niat. Padahal, beberapa ulama lainnya seperti An Nawa menjelaskan maksud an nuthq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram.

Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan,

“Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

Dan sekarang kita dapati doa niat puasa ramadhan yang ada di masyarakat sebagai berikut.

“Nawaitu Shouma ghodiin, ‘an adaa’i fardhi syahri romadhona hadihisanati lillahi ta’ala”

Dengan dalil hadis nabi, bahwa niat ada di dalam hati, cukupklah menjadikan kita paham kalau niat puasa ramadhan bukanlah untuk diucapkan.

Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niat”

Kesimpulan:

Niat puasa ramadhan tidak harus dilafadzkan. Dan asal-usul dari pernbuatan tersebut ternyata, dari kesalahan dalam memahami fatwa dari ulama. Sekarang, ketika sudah tahu, mari kita lakukan.

Jika niat wajib diucapkan, tidak akan ada maling yang selamat. Tapi niat memang amalan hati, dan tempatnya di dalam hati, tanpa diucapkan Allah sudah tahu. Meski semuanya sudah jelas, saya sendiri mengembalikan pada Anda, mau fanatik ajaran nabi atau Pak Kyai. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *